Ancaman Donald Trump terdengar keras dan jelas. Mantan Presiden AS itu mengancam akan menghantam infrastruktur minyak di Pulau Kharg, Iran, jika Teheran tak menghentikan blokade kapal-kapal di Selat Hormuz. Ancaman itu menggantung di tengah ketegangan yang sudah memuncak. Namun begitu, kabar terbaru justru datang dengan syarat yang tak biasa: Iran dikabarkan mau membuka jalan bagi kapal tanker, asal transaksinya pakai yuan China.
Seorang pejabat senior, seperti dilansir CNN, mengungkapkan bahwa Iran sedang mempertimbangkan izin untuk sejumlah kecil tanker. Syaratnya, minyak di kapal-kapal itu harus diperdagangkan dalam mata uang China. Langkah ini jadi bagian dari rencana baru Teheran untuk mengatur lalu lintas tanker di selat yang sempit dan vital itu. Sebuah manuver finansial di tengah konflik bersenjata.
Selama ini, minyak internasional hampir selalu diperdagangkan dengan dolar AS. Pengecualian mungkin hanya untuk minyak Rusia yang kena sanksi, yang kadang pakai rubel atau yuan. Nah, kekhawatiran pasar akan situasi di Selat Hormuz ini sudah mendongkrak harga minyak. Harganya melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan 2022. Suasana mencekam, dan pasar bereaksi.
Artikel Terkait
Satbrimob Gagalkan Aksi Tawuran dan Balap Liar di Jabodetabek Saat Ramadan
Arus Mudik di Tol Cipali Meningkat 16,8%, Diskon 30% Berlaku
Formula 1 Batalkan Dua Grand Prix di Timur Tengah Imbas Ketegangan Keamanan
Iran Sumpahkan Akan Mengejar dan Menghabisi Netanyahu