Pertanyaan besarnya, apakah nanti pemerintah dan Muhammadiyah akan merayakan di hari yang berbeda? Jawabannya, sangat mungkin. Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah antara rukyat (melihat hilal) dan hisab (perhitungan astronomi) sudah jadi dinamika biasa di Indonesia.
Arsad Hidayat, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, mengakui hal ini. Menurutnya, perbedaan pendekatan itu bagian dari khazanah keilmuan Islam yang kaya. Pemerintah menghormati metode yang dipakai berbagai ormas.
Meski begitu, Kemenag tetap mengajak seluruh masyarakat untuk bersabar menunggu hasil sidang isbat.
"Pemerintah mengajak masyarakat untuk menunggu keputusan sidang isbat sebagai rujukan bersama dalam penetapan awal Syawal," kata Arsad.
Ia juga menekankan pentingnya menjaga kerukunan. "Jika ada perbedaan, kedepankan sikap saling menghormati dan menjaga persatuan. Itu hal penting dalam menyikapi dinamika penentuan hari raya," ujarnya menambahkan.
Jadi, intinya, beda atau tidaknya sangat tergantung pada hasil sidang isbat tanggal 19 Maret nanti. Apapun hasilnya, semangat untuk saling menghargai pilihan masing-masing tetaplah yang utama. Lebaran kan tentang kebersamaan, bukan perbedaan.
Artikel Terkait
KPK Tetapkan Bupati Cilacap Tersangka Dugaan Pemerasan Berkedok THR
Lebih dari 24 Ribu Jemaah Umrah Indonesia Telah Dipulangkan dari Arab Saudi
KPK Tetapkan Bupati dan Sekda Cilacap Tersangka, Sita Rp610 Juta untuk THR Eksternal
Meta Luncurkan Fitur Balasan Otomatis AI untuk Penjual di Facebook Marketplace