“Dari dua puluh SMK mitra kami, sepuluh di antaranya sudah punya teaching factory dengan produk yang diterima pasar. Bahkan, satu teaching factory saja bisa membukukan pendapatan lebih dari Rp12 miliar per tahun,” jelas Galuh.
Hasilnya cukup konkret. Siswa SMK RUS yang fokus di animasi, misalnya, sudah mengerjakan portofolio untuk jenama besar seperti Disney Junior dan Netflix. Ada serial Barbie, Unicorn World, hingga Cocomelon. Karya bertajuk "Unstring Your Heart" bahkan sempat masuk nominasi di Kansas International Film Festival 2020.
Lain lagi dengan SMK NU Banat yang spesialisasi di desain fesyen. Mereka sudah punya jenama sendiri, Zelmira, dan bahkan sedang menjajaki kerja sama produksi dengan sebuah hotel mewah di Jerman.
Galuh menyebut, hingga 2025 nanti, sekolah mitra mereka telah memperkuat lebih dari 63.000 alumni. Tingkat serapan industrinya mencapai 85 persen, dengan gaji di beberapa tempat bisa empat kali lipat UMR setempat.
Melihat potensi sebesar ini, Galuh mendorong agar akses ekspor dibuka lebih lebar. “Siswa-siswi SMK di sini sangat bisa bersaing di tingkat global. Mereka sudah menyumbang devisa dan mendukung operasional sekolah lewat produk yang dihasilkan. Kami yakin, kemampuan hebat ini perlu diiringi akses pasar yang lebih luas lagi,” tegasnya.
Jadi, ceritanya bukan lagi soal potensi yang tersembunyi. Talenta dan produknya sudah ada. Tinggal bagaimana membuka jalan agar karya-karya itu bisa sampai ke panggung yang lebih besar, dan memberi dampak nyata bagi perekonomian.
Artikel Terkait
Pengemudi Online Berhak Dapat THR Minimal 25% dari Rata-Rata Penghasilan
TikTok Gelar Festival KOLAK Ramadan 2026, Dukung UMKM dan Hadirkan Project Pop
KPK Tetapkan Dua Tersangka Usai OTT di Cilacap, Bupati dan Sekda Diamankan
Arus Mudik Lebaran 2026 via Kereta Meningkat, H-7 Tembus 49.895 Keberangkatan dari Jakarta