“Fakta-fakta ini Bapak/Ibu sekalian menunjukkan bahwa persoalan kualitas udara bukan hanya isu lingkungan semata,” tegasnya. “Tetapi juga berkaitan erat dengan aspek kesehatan publik, produktivitas ekonomi serta kualitas hidup masyarakat yang ada di perkotaan.”
Namun begitu, tantangannya kompleks. Polusi udara tak kenal batas administrasi. Sumbernya beragam: dari knalpot kendaraan, cerobong industri, pembangkit listrik, sampai aktivitas rumah tangga. Ditambah lagi, faktor cuaca dan angin turut berperan menyebarkan polutan lintas wilayah.
Maka, Yusharto menekankan arahan Presiden. Penanganannya harus sistematis, berbasis data, dengan koordinasi lintas sektor dan daerah yang lebih kuat. Ia berharap forum diskusi ini bisa melahirkan rekomendasi kebijakan yang konkret, untuk memperkuat sinergi antara pusat, daerah, dan semua pemangku kepentingan.
Dari sisi daerah, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim punya pandangan. Baginya, solusi mendesak untuk menekan polusi di Jabodetabek adalah memperkuat transportasi publik.
“Nah jadi usulannya apa? usulannya sudah banyak,” kata Dedie. “Salah satunya kalau untuk aglomerasi Jabodetabek, selesaikan yang namanya LRT Jabodebek. Jadi ketergantungan kita terkait pemakaian kendaraan roda dua, roda empat akan berkurang.”
Pesan utamanya jelas: kita tak bisa lagi menunggu. Langkah terukur dan kerja sama erat bukan sekadar wacana, tapi kebutuhan mendesak. Sebelum kabut asap kembali menyergap.
Artikel Terkait
Dua Remaja Tersangka Bawa Jenazah dalam Boks Pakai Motor di Medan
14 Maret dalam Catatan Sejarah: Dari Einstein hingga Duka Bung Hatta
Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Minyak Iran di Pulau Kharg
Empat Wakil Indonesia Lolos ke Semifinal Swiss Open 2026