Pakistan dan Thailand Terapkan Kebijakan Darurat Hemat Energi Imbas Perang Timur Tengah

- Kamis, 12 Maret 2026 | 03:25 WIB
Pakistan dan Thailand Terapkan Kebijakan Darurat Hemat Energi Imbas Perang Timur Tengah

kata Sharif dalam pidato televisi yang penuh tekanan.

Thailand: Efisiensi dari Meja Kerja hingga AC

Sementara itu, Thailand memilih pendekatan yang lebih bertahap. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul sudah memerintahkan pegawai negeri untuk bekerja dari rumah sejak Selasa lalu, kecuali yang tugasnya melayani publik langsung.

Kebijakannya terasa sangat detail dan praktis. Suhu AC di kantor pemerintah diatur ketat antara 26-27 derajat Celsius. Pegawai disarankan pakai kemeja lengan pendek, naik tangga ketimbang lift, dan mematikan semua peralatan listrik yang tak dipakai. Perjalanan dinas ke luar negeri untuk sementara dihentikan. Masyarakat pun diajak berbagi kendaraan atau "carpooling".

Kalau situasi memburuk? Rencananya lebih ketat lagi. Papan iklan di mal dan gedung komersial bisa diredupkan, bahkan SPBU mungkin harus tutup lebih awal, pukul 10 malam.

Thailand sebenarnya punya cadangan energi untuk sekitar tiga bulan. Tapi masalahnya, 68% kebutuhan mereka bergantung pada gas alam. Makanya, pemerintah sedang buru-buru mencari pasokan LNG tambahan dari Amerika Serikat, Australia, dan Afrika Selatan. Semua untuk mengamankan stok jika konflik Timur Tengah berkepanjangan.

Jadi, meski perang secara fisik terjadi jauh di sana, efeknya merambat kemana-mana. Dari ruang kelas yang sepi di Pakistan, hingga kantor pemerintah yang panas di Bangkok, semua merasakan imbasnya. Langkah-langkah penghematan ini mungkin baru awal. Semuanya tergantung pada bagaimana konflik itu sendiri akan berujung.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar