Pakistan dan Thailand Ambil Langkah Darurat Hemat Energi Imbas Gejolak Timur Tengah

- Kamis, 12 Maret 2026 | 03:05 WIB
Pakistan dan Thailand Ambil Langkah Darurat Hemat Energi Imbas Gejolak Timur Tengah

Thailand: Dari WFH Sampai Imbauan Naik Tangga

Sementara itu, di Thailand, langkah yang diambil juga tak kalah signifikan. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memerintahkan pegawai negeri untuk bekerja dari rumah mulai Selasa (10/3). Kecuali, tentu saja, bagi mereka yang harus melayani publik secara langsung.

Kebijakan lainnya terkesan detail tapi punya dampak kumulatif. AC di kantor pemerintah diatur ketat antara 26-27 derajat Celsius. Pegawai disarankan pakai kemeja lengan pendek, menggantikan setelan formal. Lampu dan peralatan listrik harus dimatikan saat tidak dipakai. Bahkan ada imbauan untuk menghindari lift dan beralih ke tangga.

Perjalanan dinas ke luar negeri untuk sementara ditangguhkan. Pemerintah juga menggalakkan carpooling di kalangan masyarakat agar konsumsi BBM bisa ditekan.

Kalau situasi makin parah, rencananya akan ada langkah lebih ketat. Misalnya, meredupkan lampu papan iklan di pusat perbelanjaan, bioskop, dan gedung komersial. SPBU juga mungkin harus tutup lebih awal, yakni pukul 22.00.

Sebagai informasi, cadangan energi Thailand saat ini diperkirakan cukup untuk 95 hari ke depan. Problemnya, 68% kebutuhan energinya bergantung pada gas alam. Mereka pun sedang berburu pasokan LNG tambahan dari sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Australia, dan Afrika Selatan.

Jadi, meski perang secara fisik terjadi jauh di sana, efeknya ternyata merambat ke banyak hal. Dari ruang kelas yang sepi di Pakistan, hingga tangga kantor yang ramai di Bangkok.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar