"Modal dasar kita adalah stabilitas keamanan dan politik," tegasnya. "TNI-Polri wajib mengawal dan mengamankan program-program strategis pemerintah agar Indonesia bisa mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri di tengah krisis global."
Acara buka puasa kemarin dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara. Mulai dari Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoedin, Ketua Komisi I DPR Utut Adianto, hingga pimpinan MUI dan jajaran Mabes Polri.
Dalam kesempatan itu, Kapolri juga memaparkan kondisi dunia yang memprihatinkan. Konflik di Timur Tengah, khususnya antara Israel-Amerika dan Iran, telah memicu gejolak. Harga minyak dunia sempat melonjak hingga menembus angka $110 per barel, sebuah tekanan yang serius.
"Jika ini terus dibiarkan tanpa kendali dan harga minyak terus meningkat, kekuatan fiskal kita akan sangat berat menahan subsidi BBM," ujarnya. Imbasnya bisa panjang: lonjakan harga dan inflasi yang mengganggu program pembangunan.
Menyikapi semua tantangan ini, Sigit kembali menegaskan peran konstitusional TNI-Polri. Mulai dari mengawal hilirisasi industri hingga program swasembada pangan dan energi, semuanya butuh pengamanan dan iklim investasi yang kondusif.
Di akhir penyampaiannya, ia menyelipkan pesan tentang sejarah. Bangsa ini punya memori kelam tentang politik pecah belah. Keberagaman kita, kata Sigit, hanya bisa dijaga dengan kekompakan.
"Pilihan kita adalah bersatu dalam kebhinekaan, atau kita akan terpecah belah dan mengalami kemunduran," imbuhnya. Sinergi TNI-Polri dengan masyarakat disebutnya sebagai kunci untuk melewati krisis dan menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berdenyut.
Artikel Terkait
Polri dan Jurnalis Bagikan 100 Paket Sembako untuk Anak Yatim dan Dhuafa di Jakarta Barat
Iran Balas Serangan AS, Kapal Kargo Diserang di Selat Hormuz
F-PKB MPR Gelar Peringatan Nuzulul Quran dan Santunan Anak Yatim
Ketua Umum ISKI Baru: Komunikasi Krusial Jaga Kedaulatan di Era Banjir Disinformasi