Di sisi lain, sektor-seperti derivatif dan bursa karbon juga menghadapi kendala. Produk yang tersedia masih terbatas, partisipasi pelaku pasarnya pun belum maksimal.
Untuk menjawab semua tantangan itu, Hasan memperkenalkan sebuah kerangka strategis bernama “Integralitas”. Kerangka ini punya delapan rencana aksi yang dikelompokkan dalam lima klaster: integrasi, granularitas, likuiditas, transparansi, dan akuntabilitas.
Secara konkret, langkah reformasinya akan mencakup banyak hal. Misalnya, memperkuat koordinasi antar lembaga, mengembangkan data kepemilikan saham yang lebih rinci, hingga menaikkan batas minimal saham beredar di publik (free float) menjadi 15 persen. Tata kelola emiten juga akan diperketat.
Yang menarik, rencana reformasi ini juga menyasar transparansi kepemilikan dan persiapan demutualisasi bursa. Tujuannya jelas: meningkatkan akuntabilitas.
Menurut Hasan, beberapa langkah awal sudah mulai dijalankan sejak Maret 2026. Publikasi struktur kepemilikan saham di atas satu persen, penyempurnaan klasifikasi investor, hingga pembentukan satgas khusus untuk mengawal reformasi integritas pasar, sudah digulirkan.
Ia meyakini, kombinasi strategi integralitas dengan empat pilar pendukung penguatan kelembagaan OJK, peningkatan SDM, pembangunan infrastruktur, dan dukungan anggaran akan membawa transformasi.
“Kombinasi ini akan membentuk arsitektur transformasi sektor pasar modal yang kredibel, modern, dan berdaya saing global,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Polres Metro Tangerang Kota Sediakan Layanan Titip Kendaraan Gratis untuk Pemudik
KARA Raih Tiga Penghargaan Nilai Pelanggan dari Survei Konsumen di Enam Kota
Mendes PDTT Desak Pembaruan Data Tunggal untuk Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Kapolda Riau Dianugerahi Maklumat Hari Ekosistem Atas Komitmen Green Policing