Tak cuma soal pelestarian, Fadli juga menyinggung aspek ekonomi. Revitalisasi bangunan bersejarah, misalnya, bisa jadi ruang aktivitas budaya sekaligus penggerak pariwisata dan ekonomi kreatif.
Pandangan senada datang dari Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya. Menurutnya, kolaborasi penting untuk menjaga warisan budaya sekaligus memberi nilai tambah ekonomi. Platform digital bisa membuka ruang lebih luas agar karya anak bangsa dikenal global.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, membawa perspektif berbeda. Ia memandang hutan tak sekadar bentang alam, melainkan juga bentang kebudayaan. Masyarakat adat di dalamnya adalah bagian dari kekayaan itu. Ia berharap komitmen ini diwujudkan dalam program konkret antara dua kementerian.
Sementara itu, Kepala BRIN Arif Satria dan Wakil Menteri Kominfo Nezar Patria lebih menyoroti aspek data. Kebudayaan harus dilihat sebagai data strategis. Digitalisasi data budaya akan memudahkan akses publik dan mendukung rekonstruksi jika ada yang rusak.
Dari pihak daerah, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menyambut baik kerja sama ini. Ia yakin kolaborasi bisa memperkuat upaya pelindungan budaya dan mendongkrak Indeks Pembangunan Kebudayaan.
Acara yang dihadiri para pejabat tinggi itu diharapkan bukan sekadar seremonial. Dengan Kementerian Kebudayaan bertindak sebagai "dirigen", orkestrasi ekosistem kebudayaan nasional diharapkan bisa berjalan lebih harmonis. Dampaknya pun diharapkan nyata, terukur, dan berkelanjutan untuk Indonesia.
Turut mendampingi Menteri Fadli Zon, antara lain Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo, Sekjen Bambang Wibawarta, serta sejumlah direktur jenderal dan staf ahli di lingkungan kementerian.
Artikel Terkait
Anggota JKT48 Freya Laporkan Kasus Manipulasi Foto Pakai AI ke Polisi
Francis Ngannou Kembali ke Oktagon, Hadapi Philipe Lins pada 16 Mei
Bareskrim Musnahkan 34,5 Kilogram Sabu dari Dua Kasus di Cilegon
Gus Ipul Soroti Data Tunggal untuk Atasi Orang-Orang Tak Terlihat