Cadangan Menipis, Produksi Minyak Negara Teluk Terancam Berhenti dalam Hitungan Hari

- Rabu, 11 Maret 2026 | 11:15 WIB
Cadangan Menipis, Produksi Minyak Negara Teluk Terancam Berhenti dalam Hitungan Hari

Laporan Bloomberg Selasa kemarin menyebutkan angka-angka yang konkret: Saudi sudah memangkas produksi hingga 2,5 juta barel per hari. UEA mengurangi 500.000 hingga 800.000 barel. Kuwait dan Irak juga ikut memotong, masing-masing sekitar 500.000 dan 2,9 juta barel per hari. Angka-angka itu didapat dari sumber yang mengetahui situasi di lapangan.

Bila Produksi Benar-Benar Berhenti

Bayangkan jika ekspor minyak dari Teluk benar-benar terhenti. Kawasan ini menyumbang sepertiga ekspor minyak mentah laut dunia. Harga pasti akan melambung tinggi. Menteri Energi Qatar bahkan bilang ke Financial Times, harga bisa tembus $150 per barel jika konflik berlarut dan produksi terpaksa dihentikan.

Peringatan serupa datang dari Saudi Aramco soal "dampak yang sangat serius" jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut. Bank ING dari Belanda mencatat, makin lama konflik, makin banyak pasokan yang terhenti karena tak ada jalan keluar. Badan Energi Internasional (IEA) juga khawatir gangguan berkepanjangan bisa mengubah pasar dari surplus jadi defisit.

Dan restart produksi setelah berhenti bukan perkara gampang. Butuh hari hingga minggu untuk kembali normal. Jika berhentinya lama, risiko kerusakan peralatan atau masalah di lapangan tambah besar. Repotnya bukan main.

Fasilitas Energi yang Jadi Sasaran

Kerusakan sudah terjadi di mana-mana. Awal Maret, drone Iran menghantam kilang minyak terbesar Aramco di Ras Tanura, Arab Saudi. Fasilitas berkapasitas 550.000 barel per hari itu ditutup sementara untuk penilaian kerusakan.

Di hari yang sama, Ras Laffan di Qatar fasilitas ekspor LNG terbesar dunia juga kena. QatarEnergy terpaksa hentikan operasi dan umumkan "force majeure".

Meski Presiden Iran Masoud Pezeshkian sempat minta maaf ke negara-negara Teluk dan janji hentikan serangan, serangan sporadis tetap berlanjut. Senin malam, drone menghantam Pulau Sitra di Bahrain, merusak kompleks kilang Al Ma'ameer dan menghentikan pengiriman.

Pertahanan udara Saudi juga mengaku menghancurkan empat drone yang menuju ladang minyak Shaybah. Presiden AS Donald Trump bilang perang akan berakhir "sangat segera," tapi serangan ke Kuwait, Bahrain, dan UEA kembali terjadi Selasa pagi. Saudi lagi-lagi menghancurkan dua drone di wilayah timurnya yang kaya minyak.

Suasana makin mencekam. Dan pasar minyak dunia, menahan napas.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Yuniman Farid

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar