Senin lalu, pasar minyak dunia sempat diguncang. Harga melesat nyaris ke angka $120 per barel. Pemicunya? Serangan Israel terhadap infrastruktur energi Iran di akhir pekan, ditambah pengumuman Teheran soal pemimpin tertinggi baru, Mojtaba Khamenei. Dalam hitungan rupiah, itu setara dengan Rp1,9 juta lebih per barel angka yang bikin deg-degan.
Eskalasi dalam konflik yang sudah berjalan sepuluh hari ini langsung memicu kekhawatiran segar. Minyak mentah Brent pun menyentuh $119,50. Tapi, seperti rollercoaster, harganya kemudian ambles lagi. Sempat terjun ke sekitar $100, lalu pada Selasa diperdagangkan di bawah $90. Meski turun, posisinya masih lebih dari 20% lebih tinggi ketimbang sebelum perang pecah pada 28 Februari lalu.
Yang jelas, situasi yang makin panas ini memperbesar ancaman bagi infrastruktur energi di Timur Tengah. Produsen-produsen di sana sudah kelimpungan menghadapi kerusakan fasilitas akibat serangan Iran, belum lagi ditutupnya jalur pelayaran minyak paling vital di dunia. Dengan cadangan penyimpanan yang kian menipis, muncul pertanyaan menohok: berapa hari lagi produksi minyak negara-negara Teluk bisa bertahan sebelum terpaksa berhenti?
Selat Hormuz: Kunci yang Sekarang Terkunci
Konflik AS-Israel melawan Iran ini langsung menyeret negara-negara produsen minyak di Teluk Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, dan Bahrain ke dalam pusaran. Iran tak segan menyeret mereka dengan melancarkan serangan ke fasilitas energi, bandara, hingga pangkalan militer AS di kawasan. Serangan-serangan itu dikecam sebagai "pengkhianatan" dan dibalas dengan ancaman balasan militer.
Namun begitu, masalah utamanya justru ada di laut. Iran praktis menutup Selat Hormuz, jalur sempit antara Iran dan Oman yang jadi urat nadi pasokan minyak global. Menurut analis pelayaran Kpler, lalu lintas komersial di sana hampir seluruhnya terhenti. Padahal, sekitar seperlima minyak dunia lewat selat ini. Penutupannya adalah mimpi buruk bagi pasar energi.
Stok Menipis, Waktu Berlari
Dengan kapal-kapal tanker terjebak, produsen di Teluk cuma bisa berharap selat itu segera dibuka. Memang, Arab Saudi dan UEA punya opsi lain. Mereka bisa mengalihkan sebagian ekspor via Laut Merah dan Teluk Oman. Tapi negara Teluk lainnya? Mereka cuma mengandalkan tangki penyimpanan yang isinya kian susut.
Secara kolektif, mereka punya cadangan sekitar 343 juta barel untuk menunda penghentian produksi yang nampaknya tak terelakkan, begitu hitungan JP Morgan. Tapi, normalnya, lebih dari 15 juta barel minyak mentah plus 4 juta barel produk olahan seperti bensin dan diesel, melintas di Selat Hormuz setiap harinya. Buffer mereka? Cuma sekitar 22 hari sejak perang dimulai.
Memang ada laporan Selasa lalu bahwa beberapa tanker berhasil melintas. Tapi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) punya peringatan keras. Mereka bilang Teheran yang akan "menentukan akhir perang". Bahkan, mereka berjanji tak akan membiarkan "satu liter pun minyak" diekspor dari kawasan jika serangan AS dan Israel terus berlanjut. Ancaman yang jelas-jelas bikin ciut.
Pemangkasan Produksi Mulai Terjadi
Irak, yang cadangan penyimpanannya cuma bertahan enam hari, kemungkinan besar sudah mentok. Mereka dilaporkan mulai memangkas produksi sekitar 1,5 juta barel per hari pekan lalu. Analis Rystad Energy memperingatkan, ladang minyak Irak yang masih beroperasi "menghadapi penghentian yang hampir pasti dalam waktu dekat."
Arab Saudi relatif lebih aman, dengan cadangan sekitar 66 hari menurut JP Morgan itu pun jika mereka bisa mengalihkan ekspor lewat jalur lain. Tapi Rystad punya hitungan lebih pesimis: Saudi mungkin cuma punya waktu efektif tujuh sampai sembilan hari sebelum terpaksa memangkas produksi.
Upaya pengalihan pun dilakukan. Saudi Aramco mengalihkan minyak ke Pelabuhan Yanbu di Laut Merah, sementara UEA lewat Fujairah yang juga tak luput dari serangan Iran. Masalahnya, jalur alternatif ini cuma bisa menampung sepertiga dari volume normal yang lewat Hormuz.
Artikel Terkait
Rumah Kosong di Bogor Ambruk Usai Hujan Deras, Tak Ada Korban Jiwa
22 WNI Dievakuasi dari Wilayah Konflik, Pemerintah Janjikan Upaya Berlanjut
Polri Imbau Warga Laporkan Permintaan Sumbangan yang Dipaksakan Jelang Lebaran
BRIN dan Kemenbud Sepakat Dorong Riset Peradaban 1,8 Juta Tahun dan Digitalisasi Bahasa