Hingga saat ini, setidaknya delapan kampus di luar Jakarta sudah punya Pusat Studi Kepolisian. Di antaranya Universitas Syiah Kuala di Aceh, Universitas Negeri Sebelas Maret di Solo, sampai Universitas Pattimura di Ambon. Tujuannya jelas: menjaring perspektif lokal yang beragam agar analisis keamanan lebih tajam dan kontekstual.
"Selain itu, masih terdapat 69 PTN/PTS yang tengah memasuki tahap penandatanganan kerja sama (PKS) yang membentang dari Aceh hingga Papua," tambah Dedi.
Dengan kata lain, ekspansi intelektual Polri sedang berlangsung masif. Mereka berharap budaya ilmiah bisa meresap ke dalam institusi. Sehingga setiap keputusan penting nantinya sudah melalui uji publik dan kajian akademis yang ketat.
Lalu, apa saja tujuh pusat studi yang baru diluncurkan hari ini? Bidangnya cukup spesifik. Mulai dari Pusat Studi Teknologi Kepolisian yang dipimpin Aslog Kapolri Irjen Suwondo Nainggolan, sampai Pusat Studi Intelijen Keamanan pimpinan Irjen Achmad Kartiko.
Ada juga yang fokus pada isu sosial, seperti Pusat Studi Perlindungan Perempuan dan Anak di bawah Brigjen Nurul Azizah, serta Pusat Studi Keadilan Restoratif yang dipimpin Andrea H. Poeloengan. Lengkap sudah. Langkah ini menunjukkan Polri ingin menjangkau segala aspek, dari teknologi tinggi hingga persoalan kemanusiaan di tingkat akar rumput.
Artikel Terkait
WNI Bercerita 10 Bom Melintas di Atas KBRI Teheran Saat Evakuasi
DPR Gelar Uji Kelayakan 10 Calon Pimpinan OJK Besok
Iran Tawarkan Akses Selat Hormuz bagi Negara yang Usir Dubes AS dan Israel
Mayat Perempuan Muda Ditemukan Terbungkus Karung di Bantaran Sungai Denai