Di kompleks STIK/PTIK Lemdiklat Polri, Jakarta Selatan, suasana Selasa (10/3) pagi terasa berbeda. Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo baru saja memimpin peluncuran tujuh pusat studi kepolisian baru. Acara yang juga dihadiri oleh perwakilan dari Jepang dan Rusia ini menandai babak baru bagi Polri.
Kini, total sudah ada enam belas pusat studi yang beroperasi di bawah naungan STIK/PTIK. Ini bukan sekadar tambahan jumlah. Menurut Dedi, langkah ini adalah sinyal kuat bahwa Polri sedang menggeser paradigma kerjanya. Mereka tak mau lagi cuma mengandalkan tindakan taktis di lapangan.
"Diharapkan dengan peresmian 16 Pusat Studi Kepolisian ini dengan bidang keilmuan masing-masing, pusat studi kepolisian ini menjadi wadah riset dan diskusi akademik terkait pengembangan ilmu kepolisian di Indonesia," jelas Dedi.
Intinya, Polri ingin serius mendalami riset. Mereka bertekad beralih ke pendekatan yang berbasis bukti ilmiah atau Evidence Based Policy. Setiap kebijakan dan langkah operasional ke depan diharapkan lahir dari kajian yang mendalam, bukan sekadar insting.
Nah, untuk mewujudkan itu, kolaborasi dengan dunia kampus jadi kunci. Strategi yang mereka sebut pentahelix ini menempatkan akademisi sebagai mitra strategis. Dan upaya ini sudah menjalar ke berbagai daerah.
Artikel Terkait
WNI Bercerita 10 Bom Melintas di Atas KBRI Teheran Saat Evakuasi
DPR Gelar Uji Kelayakan 10 Calon Pimpinan OJK Besok
Iran Tawarkan Akses Selat Hormuz bagi Negara yang Usir Dubes AS dan Israel
Mayat Perempuan Muda Ditemukan Terbungkus Karung di Bantaran Sungai Denai