Kemudian, giliran Adian yang balik bertanya, "Ada?"
"Nggak ada," balas Habiburokhman, menyelesaikan lingkaran debat mini mereka.
Adian lalu menutup dengan kalimat penengah, "Yang penting utang kelar." Kalimat itu disambut tawa rekan-rekan di sekeliling mereka. Suasana rileks dan penuh keakraban.
Ketika dikonfirmasi, Habiburokhman menjelaskan latar belakang hubungan mereka. Menurutnya, persahabatan dia dan Adian sudah terjalin lama, berawal dari sama-sama aktivis.
Sebagai Ketua Komisi III DPR RI, dia menegaskan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang sangat biasa. Persahabatan dan profesionalisme, baginya, bisa berjalan beriringan.
"Ya, itu hal yang biasa saja. Kami sama-sama aktivis 98 yang kebetulan lagi nyamar jadi anggota DPR," ujarnya dengan nada santai.
"Kami bersahabat sudah lama banget, sebenarnya kami kompak banget tapi untuk beberapa hal beda pendapat ya boleh aja kan," lanjut Habiburokhman.
Dia menambahkan, "Kami saling menghormati perjuangan masing-masing. Ini demokrasi ala aktivis."
Jadi, begitulah. Dari debat sengit yang menyita perhatian publik, kini tinggal kenangan yang dibawa dengan ringan. Sebuah potret bahwa di gedung yang kerap disorot itu, ada juga dinamika persahabatan yang bertahan melewati perbedaan.
Artikel Terkait
Neng Eem Ajak Warga Jeda dan Perkuat Ikatan Sosial di Ramadan
Banjir dan Longsor Landa Bogor, 15 Rumah Terendam
Rem Blong Truk Picu Kecelakaan Beruntun 7 Kendaraan di JORR
Wakil Ketua MPR Desak Deteksi Dini Kesehatan Mental di Sekolah, Angka Remaja Berisiko Capai 34,9%