Di tengah ketidakpastian global, Jusuf Kalla mengumpulkan sejumlah pemikir ekonomi terbaik negeri ini. Mantan Wakil Presiden itu mengundang sembilan ekonom ternama ke kediamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin lalu. Tujuannya jelas tapi tidak sederhana: mencari solusi atas gejolak ekonomi yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pertemuan itu bukan sekadar temu biasa. Menghadapi potensi guncangan dari luar, JK sapaan akrabnya ingin merumuskan rekomendasi strategis yang bisa dijadikan panduan pemerintah. Bagaimana caranya menjaga stabilitas nasional ketika dunia di sekitar kita mulai bergejolak?
Deretan nama yang hadir pun cukup lengkap. Ada sosok-sosok senior seperti Prof. Didin Damanhuri dan Prof. Rhenald Kasali. Lalu Dr. Anthony Budiawan juga hadir memberikan pandangannya.
Tak ketinggalan, perwakilan dari berbagai kampus dan lembaga riset pun turut serta. Denni Purbasari dari UGM, Rizki Nauli dari LPEM UI, dan Yose Rizal Damuri dari CSIS ikut dalam diskusi. Nailul Huda dari Celios, Yanuar Nugroho dari Nalar Institute, serta Fadhil Hasan dari INDEF juga menyumbangkan pemikirannya.
Menurut Jusuf Kalla, pertemuan ini dimaksudkan untuk memberi masukan yang konstruktif. Pemicunya jelas: serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang berpotensi menggoyang pasar global. Rekomendasi yang dihasilkan diharapkan bisa jadi referensi utama bagi pemerintah, khususnya dalam menjaga kestabilan moneter dan fiskal.
“Memberikan pikiran-pikiran yang objektif tentang keadaan, bahwa ekonomi kita perlu banyak perbaikan, perlu banyak evaluasi, perlu banyak tindakan-tindakan yang sesuai dengan kondisi hari ini.”
JK menambahkan, kondisi ekonomi Indonesia saat ini tak lepas dari tiga pengaruh besar: dinamika dunia, warisan masa lalu, dan kebijakan yang diambil sekarang. Pernyataannya itu disampaikan dalam tayangan Metro Pagi Primetime, Metro TV, Senin, 9 Maret 2026.
Jadi, lewat diskusi tertutup ini, para ekonom mencoba membaca ulang peta. Mereka berusaha merancang langkah-langkah antisipatif sebelum dampak konflik global benar-benar terasa di dalam negeri. Hasilnya? Kita tunggu saja rekomendasi konkret yang akan disampaikan kepada pemerintah.
Artikel Terkait
Mojtaba Khamenei Peringatkan Perang Psikologis Musuh yang Targetkan Persatuan Nasional Iran
Perempuan Diduga Lompat ke Jurang di Bogor Usai Cekcok dengan Pria, Pencarian Masih Nihil
Rusia Ancam Targetkan Negara Eropa yang Terima Pengebom Nuklir Prancis
BPKH Bagikan Uang Saku Rp3,4 Juta per Jemaah Haji Embarkasi Solo