Namun begitu, Igor menekankan bahwa yang dilakukan Teddy bukan sekadar pembelaan buta. Tujuannya lebih mendasar: menjaga agar visi besar sang Presiden tidak kabur atau terdistorsi oleh narasi-narasi liar yang berseliweran di publik. Ia paham betul prioritas dan arah kebijakan atasan, sehingga penjelasannya kerap dijadikan rujukan penting untuk memahami posisi resmi istana.
"Peran ini penting agar masyarakat mendapatkan gambaran yang utuh," imbuh Igor.
Pada akhirnya, kehadiran figur seperti Teddy seolah menjadi kebutuhan. Dalam pemerintahan modern yang serba cepat, tidak semua pejabat mau dan mampu berkomunikasi di bawah tekanan. Ia hadir sebagai suara yang konsisten.
Lebih dari sekadar urusan administratif, langkah aktifnya ini mencerminkan peran strategis. Transparansi diperkuat, jarak antara istana dan rakyat dipersempit.
"Publik jadi mendapatkan akses informasi yang lebih jelas mengenai arah kebijakan Presiden," pungkas Igor.
Artikel Terkait
Pohon Tua Tumbang di Depan SMKN 30 Jakarta, Tiga Pengendara Terluka
Kementerian Kebudayaan Gandeng Lima Lembaga untuk Perkuat Ekosistem Budaya
Mantan Kontestan Indonesian Idol Piche Kota Ditahan Terkait Dugaan Pencabulan Siswi SMA
Polri Kerahkan 89 Ribu Personel untuk Operasi Ketupat 2026