Jakarta - Di tengah memanasnya situasi di Timur Tengah, muncul secercah harapan dari langkah diplomasi dua negara. Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, melihat inisiatif Indonesia dan Pakistan untuk meredakan ketegangan militer di kawasan Teluk bukan sekadar langkah biasa. Menurutnya, upaya ini bisa menjadi "lilin kecil" perdamaian bagi dunia, khususnya masyarakat Timur Tengah.
Reza, begitu ia biasa disapa, menyampaikan pandangannya via telepon dari Jakarta, Minggu lalu. Pembicaraan itu menyusul rencana Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang akan terbang ke Teheran. Tujuannya jelas: membantu meredam eskalasi pasca serangan AS-Israel ke Iran.
"Diplomasi Indonesia dan Pakistan ini, sekecil apapun hasilnya, bisa jadi lilin kecil bagi mayoritas masyarakat di dunia," kata Reza.
Ia menekankan, upaya de-eskalasi ini sangat krusial. Namun, fokusnya harus terutama diarahkan ke Amerika Serikat, yang dianggapnya sebagai penyebab utama krisis di Teluk. "Bahkan bisa memicu Perang Dunia 3," tambahnya tanpa basa-basi.
Lalu, bagaimana caranya? Reza menyarankan agar kedua negara mengedepankan akar masalah dari perspektif krisis. Penjelasannya harus berdasarkan hukum internasional yang jelas, plus pelanggaran terhadap prinsip-prinsip Piagam PBB. Gagasan ini, menurutnya, tidak boleh berhenti di situ.
Setelah ada kebulatan tekad antara Indonesia dan Pakistan, prakarsa itu perlu dibawa ke forum yang lebih luas. Misalnya, dikonsultasikan dengan organisasi seperti D-8, OKI, Gerakan Non Blok, dan Liga Arab. Hasilnya nanti bisa dijadikan kerangka untuk Resolusi Majelis Umum maupun Dewan Keamanan PBB.
"Semua proses yang dihasilkan selanjutnya dijadikan materi diplomasi publik," ucap Reza. "Sehingga jadi referensi bagi media massa internasional."
Di sisi lain, langkah aktif Presiden Prabowo bersama PM Sharif ini punya arti penting tersendiri. Indonesia dan Pakistan sama-sama anggota D-8, di mana Iran juga termasuk salah satu anggotanya. Koordinasi keduanya bisa jadi modal berharga.
"Koordinasi Indonesia dan Pakistan akan menjadi modal bagi pembangunan D8," jelas Reza. Apalagi, organisasi itu rencananya akan menyelenggarakan KTT di Jakarta bulan April mendatang.
Tak hanya itu. Kedua negara ini dilihatnya sebagai contoh negara demokrasi modern dengan populasi Muslim yang besar. Potensi itu bisa jadi referensi bagi pembangunan dunia yang berkelanjutan.
Soal rencana kunjungan ke Teheran sendiri, pertama kali diungkapkan langsung oleh Presiden Prabowo. Itu terjadi dalam pertemuan dengan para kiai, ulama, dan cendekiawan muslim di Istana Kepresidenan, Kamis malam lalu.
Ketua Dewan Penasihat ICMI, Jimly Asshiddiqie, yang hadir dalam pertemuan itu membenarkan.
"Beliau tadi bercerita sebelum pertemuan ini, ada bicara telepon dengan Perdana Menteri Pakistan," kata Jimly.
"Dan yang saya bersyukur, Presiden dan Perdana Menteri Pakistan bersedia untuk bersama-sama berkunjung ke Teheran. Itu yang diterangkan tadi oleh Presiden," sambungnya.
Nah, langkah ini tentu akan disorot banyak pihak. Apakah benar-benar bisa meredam ketegangan, atau hanya jadi catatan kaki dalam sejarah konflik yang rumit? Waktu yang akan menjawab.
Artikel Terkait
Gubernur Jateng Dorong Kontes Sapi Perah untuk Pacu Produksi Susu
Pencairan PKH Tahap II 2026 Dimulai, Pemerintah Percepat Jadwal Demi Efisiensi Data
Tito Karnavian Ajak Kepala Daerah Sumbagsel Susun Program Prioritas 2027-2029
BRILink Agen Mekaar Tembus 426 Ribu Agen, Volume Transaksi Capai Rp3,52 Triliun