Asap hitam pekat masih menggantung di langit Teheran pagi itu. Bau bahan bakar terbakar menusuk hidung, sisa dari malam yang kacau. Serangan yang ditargetkan ke sejumlah fasilitas minyak oleh AS dan Israel, menurut laporan, benar-benar mengacaukan ritme ibu kota Iran.
Akibatnya, distribusi bahan bakar untuk warga pun terpaksa berhenti sementara. Pemerintah kota sedang berusaha mengatasi kerusakan yang terjadi pada infrastruktur energi mereka.
Gubernur Teheran, Mohammad Sadegh Motamedian, mengonfirmasi hal ini melalui kantor berita IRNA.
"Karena kerusakan pada jaringan pasokan bahan bakar, distribusi telah terhenti sementara," ujarnya.
"Masalah ini sedang diatasi," tambah Motamedian, mencoba menenangkan situasi.
Namun begitu, langkah nyata yang dirasakan warga justru pengurangan kuota. Menurut laporan Aljazeera yang mengutip Fars, gubernur menyatakan kuota harian bahan bakar lewat kartu pribadi dipotong. Dari yang semula 30 liter, kini hanya 20 liter per hari yang bisa diakses.
Motamedian berjanji pengurangan ini bersifat darurat. Masyarakat diminta tidak panik karena gangguan pasokan akan segera diperbaiki. "Kami akan membatalkan langkah ini setelah dua atau tiga hari," katanya.
Serangan semalam, seperti diungkapkan oleh CEO Perusahaan Distribusi Produk Minyak Nasional Iran, Keramat Veyskarami, menyasar lima titik vital. "Empat depot minyak dan pusat transportasi produk minyak bumi di Teheran dan Alborz diserang oleh pesawat musuh," jelasnya pada televisi pemerintah.
Dampaknya tragis. Empat orang dilaporkan tewas dalam insiden itu.
"Empat personel kami, termasuk dua pengemudi truk tangki minyak, tewas," ujar Veyskarami dengan berat.
Meski fasilitas mengalami kerusakan dan sempat berkobar, situasi kebakaran akhirnya bisa dikuasai. "Api berhasil dikendalikan," tegasnya. Di sisi lain, Veyskarami meyakinkan publik bahwa cadangan bensin nasional masih cukup, mencoba meredam kekhawatiran akan kelangkaan.
Bagi warga Teheran, malam itu meninggalkan kesan mendalam. Pemadaman listrik dan cahaya api yang menjilat-jilat di kejauhan menjadi pemandangan menyeramkan. Paginya, kabut gelap dari asap kebakaran menyelimuti kota, mengubah suasana menjadi suram. Bau hangus terbawa angin, mengingatkan semua orang bahwa konflik ini punya konsekuensi yang sangat nyata.
Artikel Terkait
PTUN Jakarta Tolak Gugatan Warga Sipil Terkait Pernyataan Fadli Zon Soal Perkosaan Massal 1998
Mendes dan Raffi Ahmad Rancang Audisi Gen-Z untuk Pemuda Desa
Menhan Tinjau Kesiapan Satuan TNI di Indramayu dan Garut, Tekankan Pengabdian pada Rakyat
Iran Eksekusi Anggota MEK yang Dituduh Berkolaborasi dengan Israel