Baginya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menjadikan kitab sucinya sebagai pendorong, sebagai 'elan', dalam membangun sains dan peradaban.
Di sisi lain, nuansa spiritual dan sosial juga mengemuka. Ustadz Ismail, seorang kandidat doktor dari Universitas Zaitunah, memberikan perspektifnya.
Ia mengatakan bulan Ramadhan harus dimaknai lebih dari sekadar puasa. Momentum ini, tuturnya, idealnya digunakan untuk membangun spiritualitas yang kokoh.
Tak hanya itu. Ramadhan juga saat yang tepat untuk memperkuat ekonomi dan, yang tidak kalah penting, menumbuhkan budaya hidup bersama di tengah masyarakat. Pandangannya ini melengkapi diskusi seputar peran agama dalam membangun peradaban yang sempat mengemuka sebelumnya.
Acara malam itu pun berakhir dengan kesan mendalam. Tampak jelas, upaya untuk menghidupkan tradisi dan menggali nilai-nilai keislaman terus dilakukan, bahkan ribuan kilometer dari tanah air.
Artikel Terkait
Polres Bogor Wakafkan 2.000 Al-Quran di Acara Nuzulul Quran
Intelijen AS: Rusia Diduga Bocorkan Informasi Rahasia ke Iran untuk Targetkan Aset Militer AS
Balinale Perkuat Peran Jembatan Sineas Indonesia di Festival Film Dunia
Trump Tolak Bantuan Kapal Induk Inggris di Konflik dengan Iran