Kehidupan sehari-hari warga Israel berubah total. Selain sekolah yang kosong, segala bentuk pertemuan dilarang. Tempat kerja juga sepi, kecuali untuk layanan-layanan yang benar-benar penting. Sebagian besar karyawan terpaksa kembali bekerja dari rumah, sebuah deja vu dari masa-masa sulit sebelumnya.
Ini jadi pukulan telak bagi ekonomi yang sebenarnya cukup tangguh. Tahun lalu, di tengah perang Gaza, ekonomi Israel masih bisa tumbuh 3,1 persen. Bahkan, sebelum konflik dengan Iran meletus, optimisme masih tinggi. Proyeksi pertumbuhan untuk tahun ini awalnya melampaui angka lima persen.
Namun begitu, semua proyeksi optimistis itu kini seperti mimpi. Perang telah mengubah segalanya dengan cepat, meninggalkan pertanyaan besar tentang seberapa lama dan dalam luka ekonomi ini akan berbekas.
Artikel Terkait
Rapper Balendra Shah Kalahkan Mantan PM Oli di Pilkada Nepal
Polda Riau Kembangkan Pupuk Organik Cair untuk Dongkrak Produksi Jagung Lokal
Angin Kencang dan Hujan Deras Robohkan Rumah Warga di Caringin, Bogor
Kedubes Polandia Gelar Lomba Desain Batik Pererat Hubungan dengan Indonesia