Namun begitu, dampak Ramadan tidak berhenti di sisi permintaan. Studi yang sama menemukan bahwa produksi manufaktur dan pertambangan di Turki justru menurun selama bulan puasa. Rata-rata, pertumbuhan produksinya lebih rendah dibanding bulan lain.
Penurunan ini masuk akal. Coba pikirkan: jam kerja sering dipersingkat, ritme kerja berubah, dan banyak pekerja yang mengambil cuti mendekati Lebaran. Wajar saja kalau produktivitas dan kapasitas produksi tidak berjalan optimal.
Efek Ramadan ternyata juga tidak terbatas hanya pada satu bulan. Dampak kenaikan harga bisa merembet ke bulan sebelum dan sesudahnya, yaitu Syaban dan Syawal. Analisis terhadap ketiga bulan ini secara bersama malah menunjukkan dampak yang lebih signifikan pada beberapa komoditas.
Ini sejalan dengan pengalaman kita. Harga seringkali sudah naik sebelum Ramadan, dan tidak serta merta turun usai Lebaran. Dalam teori ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai kekakuan harga atau price rigidity harga cenderung lebih mudah naik daripada turun.
Lalu, apa implikasi kebijakannya bagi Indonesia? Pertama, stabilisasi harga pangan harus dimulai lebih awal, bahkan sejak bulan Syaban. Operasi pasar, penguatan distribusi, dan koordinasi antar daerah perlu diintensifkan.
Kedua, pemerintah perlu memastikan sisi produksi tetap berjalan optimal selama Ramadan. Jangan sampai lonjakan permintaan justru dibarengi dengan penurunan pasokan. Ketiga, analisis ekonomi dengan mempertimbangkan kalender Hijriah bisa dijadikan pertimbangan untuk akurasi yang lebih baik.
Pada akhirnya, Ramadan mengajarkan solidaritas dan pengendalian diri. Tapi secara nyata, ia juga memperlihatkan bagaimana perilaku kolektif masyarakat bisa menggerakkan dinamika ekonomi nasional. Ekonomi bukan cuma angka dan grafik; ia adalah cerminan langsung dari perilaku manusia. Ketika jutaan orang mengubah pola hidupnya secara serentak, dampaknya terasa pada inflasi, produksi, dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Ramadanomics mengingatkan kita: kebijakan ekonomi tak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya. Di Indonesia, di mana mayoritas penduduk menjalankan ibadah puasa, memahami dinamika ekonomi Ramadan adalah kunci menjaga stabilitas harga dan kesejahteraan. Dengan pengelolaan yang tepat, Ramadan tak hanya menjadi bulan penuh berkah secara spiritual, tapi juga bisa tetap stabil dan sehat secara ekonomi.
M Abd Nasir.
Dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember.
Artikel Terkait
BNN dan Bea Cukai Bongkar Lab Mephedrone Jaringan Rusia di Villa Gianyar
Polisi Padang Sita Sabu dari Residivis Pencurian Usai Penyamaran Jadi Ustaz
Megalit Berusia 1.000 Tahun di TNLL Poso Diduga Dirusak Penambang Ilegal
Dishub DKI Berlakukan Rekayasa Lalu Lintas untuk Festival Nyepi di Kawasan HI-Monas