Ekspedisi untuk penelitian ini dilakukan pada awal 2021. Tim mengambil sampel dari 11 titik yang membentang dari Selat Makassar hingga Selat Lombok. Mereka menggunakan alat rosette sampler yang terhubung dengan sistem CTD, memungkinkan pengambilan air pada kedalaman spesifik.
“Botol sampel diturunkan ke laut, kemudian ditutup pada kedalaman yang sudah ditentukan, misalnya 50 meter, 200 meter, hingga ribuan meter,” papar Corry.
Dari analisis terhadap 872 liter air laut, mereka menemukan lebih dari 900 partikel mikroplastik. Yang mencengangkan, partikel ini ditemukan di semua stasiun, bahkan di titik terdalam lebih dari dua kilometer. Rata-rata konsentrasinya sekitar satu partikel per liter.
Lebih dari 90% partikel yang ditemukan berbentuk serat atau fiber. Jenis ini, menurut Corry, umumnya berasal dari tekstil sintetis.
“Baju yang kita pakai juga bisa menghasilkan mikroplastik. Saat dicuci, serat-serat kecil dari kain sintetis dapat terlepas dan akhirnya masuk ke sistem perairan,” jelasnya.
Selain serat, analisis laboratorium juga mengidentifikasi polimer seperti polyester dan polypropylene. Temuan ini menunjukkan sesuatu yang suram: laut dalam bukanlah tempat yang bebas dari polusi. Ia justru berpotensi menjadi tempat penumpukan akhir bagi sampah plastik yang tak terlihat mata.
Artikel Terkait
BNN dan Bea Cukai Bongkar Lab Mephedrone Jaringan Rusia di Villa Gianyar
Polisi Padang Sita Sabu dari Residivis Pencurian Usai Penyamaran Jadi Ustaz
Megalit Berusia 1.000 Tahun di TNLL Poso Diduga Dirusak Penambang Ilegal
Dishub DKI Berlakukan Rekayasa Lalu Lintas untuk Festival Nyepi di Kawasan HI-Monas