Pandangan Trump sendiri cukup gamblang. Dalam wawancara tanggal 5 Maret, dia meragukan putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei akan menjadi penerus ayahnya. Padahal, figur itu sempat dianggap kandidat terkuat sebelum tewas dalam serangan gabungan AS dan Israel yang memantik perang ini.
Di sisi lain, sikap Trump terhadap Iran terbilang keras. Sehari sebelum pernyataan Leavitt, tepatnya 6 Maret, Trump menegaskan tidak akan ada kesepakatan dengan Iran kecuali melalui "penyerahan tanpa syarat".
Leavitt kemudian mencoba menjelaskan maksud atasannya. Menurutnya, yang dimaksud Presiden adalah bahwa status penyerahan tanpa syarat itu akan berlaku ketika Iran dinilai tak lagi mengancam keamanan AS. Saat itulah tujuan operasi militer yang dijuluki "Epic Fury" dianggap tercapai sepenuhnya.
"Posisi Iran pada dasarnya akan seperti itu, terlepas dari apakah mereka mau mengakuinya atau tidak," pungkas Leavitt.
Artikel Terkait
Mudik Lebaran dengan Mobil Pribadi: Rincian Biaya yang Perlu Diperhitungkan
Gunung Semeru Erupsi Disertai Awan Panas, Warga Diimbau Jauhi Radius Bahaya
Pemerintah Rilis Tarif Normal Tol Trans Jawa Sebelum Diskon Mudik 2026
Dokter Richard Lee Ditahan Usai Bolos Pemeriksaan Demi Live TikTok