Ribuan Pemuda Jerman Turun ke Jerman Tolak Wacana Wajib Militer

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 09:00 WIB
Ribuan Pemuda Jerman Turun ke Jerman Tolak Wacana Wajib Militer

Potsdamer Platz, jantung Berlin yang biasanya ramai dengan turis, Kamis lalu justru dipadati ribuan pemuda. Mereka berjalan beriringan, melakukan long march menentang wacana wajib militer yang digulirkan pemerintah. Suasana tegang bercampur tekad terasa jelas di udara dingin awal Maret itu.

Soal jumlah, polisi dan penyelenggara punya catatan berbeda. Polisi menyebut sekitar 3.000 orang hadir. Tapi para penggerak aksi bersikukuh jumlahnya mencapai 6.000 di Berlin saja. Bahkan, mereka mengklaim total ada 50.000 demonstran yang turun ke jalan di lebih dari 130 kota dan kota kecil di seluruh Jerman. Angka yang tidak main-main.

Di tengah kerumunan itu, suara Shmuel Schatz, 17 tahun, terdengar lantang. Ia juru bicara Komite Mogok Sekolah.

Kemarahan para pemuda ini bukan tanpa sebab. Pemerintah Jerman memang baru saja memperkenalkan undang-undang layanan militer baru pada Desember 2025. Aturan itu mewajibkan semua pria yang berusia 18 tahun tahun ini mengisi kuesioner. Isinya menanyakan motivasi dan kecocokan mereka untuk bergabung dengan militer, sekaligus memberi informasi soal jadi sukarelawan di Bundeswehr.

Target 260.000 Tentara dan Keraguan dari Dalam

Di sisi lain, pemerintah punya alasan sendiri. Mereka menyebut tahun lalu telah menyiapkan "jalur peningkatan jumlah personel". Targetnya ambisius: sekitar 260.000 tentara, naik drastis dari angka sekarang yang cuma 180.000. Ditambah lagi sekitar 200.000 cadangan.

Tapi, upaya merekrut sukarelawan ini diragukan banyak pihak. Bahkan dari dalam parlemen sendiri. Henning Otte, Komisaris Parlemen untuk Angkatan Bersenjata dari partai CDU, dalam laporan militernya pekan ini menyatakan keraguan tentang "keberhasilan prinsip sukarela".

Nah, kalau target sukarelawan tak tercapai, pemerintah sudah ancang-ancang. Rencananya, sistem wajib militer penuh akan dihidupkan kembali. Ini yang justru memantik penolakan.

"Yang mau gabung secara sukarela, silakan. Itu pilihan mereka, meski tantangannya besar. Tapi jangan paksa kami. Pemaksaan bukan solusi," tegas Kiran Schrmann, 19 tahun, salah satu juru bicara demonstran di Berlin.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar