Harga Emas Menguat Didorong Pelemahan Dolar AS Usai Laporan Ketenagakerjaan Buruk

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 08:15 WIB
Harga Emas Menguat Didorong Pelemahan Dolar AS Usai Laporan Ketenagakerjaan Buruk

Konflik di Timur Tengah jelas punya dampak berantai. Selain emas, harga minyak mentah juga melambung tinggi sepanjang pekan. Ketegangan yang mengancam infrastruktur energi dan jalur pelayaran di Teluk memicu kekhawatiran baru: gelombang inflasi global bisa kembali muncul.

Nah, situasi ini bikin pusing bank sentral di mana-mana, termasuk The Fed. Harga minyak yang tinggi biasanya memicu inflasi. Kalau sudah begini, para pembuat kebijakan pasti akan berpikir dua kali untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Emas dan Ketegangan Iran

Pertempuran antara AS, Israel, dan Iran kian memanas dalam sepekan terakhir. Serangan rudal dan balasan terjadi di berbagai titik, meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.

Pernyataan Presiden Donald Trump yang ingin ikut menentukan pemimpin Iran pasca-perang hanya menambah ketidakpastian politik di kawasan itu.

Padahal, emas biasanya diuntungkan oleh ketidakpastian geopolitik dan prospek suku bunga rendah. Tapi minggu ini, logam kuning ini kesulitan mendapat momentum. Dolar yang kuat dan imbal hasil obligasi yang meningkat mengurangi daya tariknya.

Perak Naik, Tembaga Dibayangi Stok Melimpah

Di antara logam mulia lainnya, perak menunjukkan kinerja cukup cemerlang dengan kenaikan 2,6% menjadi USD 84,4210 per ons. Platinum juga menguat, meski lebih moderat di 0,9% ke level USD 2.147,95.

Ceritanya lain untuk tembaga. Harga acuan berjangka di LME malah turun 1,2% menjadi USD 12.902,00 per ton. Yang menarik, stok tembaga di gudang LME melonjak hampir 8% ke level tertinggi dalam 16 bulan pada Kamis.

Analis ING dalam sebuah catatan menyoroti hal ini. “Peningkatan persediaan ini mencerminkan arus masuk yang kuat ke gudang LME, didorong perubahan insentif harga regional. Struktur harga yang berbalik dari tahun lalu kini mendorong logam dialihkan kembali ke stok bursa global,” tulis mereka.

Kesimpulannya sederhana: “Lonjakan persediaan menciptakan latar belakang jangka pendek yang lebih sulit untuk harga tembaga.”

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar