Masyarakat tak perlu resah. Itulah pesan tegas Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, menanggapi kekhawatiran soal stok BBM nasional di tengah memanasnya ketegangan antara AS-Israel dan Iran. Menurutnya, kondisi persediaan kita sebenarnya aman-aman saja.
Di kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta Barat, Jumat lalu, Bahlil memberikan penjelasan. Kapasitas penampungan minyak nasional, terangnya, memang sudah dari dulu cuma sekitar 25 hari. Jadi, ini bukan hal baru yang tiba-tiba muncul.
"Kemampuan storage tempat penampung minyak kita sejak dahulu kala memang kapasitas tampungnya itu hanya 25 hari. Jadi tempat storage-nya itu hanya 25 hari. Dari dulu ini, bukan baru sekarang, dari dulu,"
Lalu, bagaimana dengan standarnya? Nah, di sisi lain, Bahlil menyebut angka minimal yang harus dipenuhi untuk kebutuhan nasional adalah di atas 20 hari. Dan posisi kita sekarang? "Sekarang minyak kita 23 hari," sambungnya. Artinya, kita masih berada di zona hijau.
Dia pun menekankan sekali lagi. Standar kepemilikan minyak saat ini masih dalam batas aman. Pesannya sederhana: jangan panik. Suplai tetap berjalan lancar.
"Jadi itu artinya bahwa standar kepemilikan kita, minyak kita itu aman. Jadi nggak perlu ada panik, nggak perlu. Suplai lancar,"
Jadi, intinya jelas. Meskipun situasi geopolitik lagi panas, pemerintah memastikan stok BBM dalam negeri masih cukup. Imbauannya cuma satu, tetap tenang.
Artikel Terkait
Menteri Fadli Zon Dorong Kemitraan Strategis Budaya Indonesia-Prancis, Tindak Lanjuti Borobudur Declaration
Harga Buyback Emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian Kompak Turun
Pengemudi Lansia Tabrak Depot Air Minum di Jakarta Barat, Satu Pembeli Alami Patah Tulang
Polisi Tangkap Dua Sopir Angkot di Ciracas yang Pecahkan Kaca Mobil Pengendara Lain Gegara Ditegur Lawan Arus