Namun begitu, Nusron memilih untuk tidak berpanjang lebar. Soal detail dan penjelasan teknis, dia serahkan sepenuhnya kepada Menteri Luar Negeri Sugiono yang akan memberi penjelasan publik nanti. Yang dia tekankan cuma satu: inisiatif perdamaian itu tidak bertepuk sebelah tangan. "Tetapi tentunya ini menjadi wilayahnya Bapak Menteri Luar Negeri yang berhak untuk menjelaskan. Tetapi tadi dijelaskan upaya Bapak Presiden mendapatkan support dari negara-negara pemimpin-pemimpin negara di Timur Tengah lainnya,"
katanya.
Intinya, menurut Nusron, ada komitmen bersama untuk menghentikan peperangan. Prabowo dan delapan pemimpin negara Arab yang terdampak konflik sepakat bahwa situasi tak boleh dibiarkan berlarut. "Intinya, Pak Presiden bersama tujuh pemimpin negara yang tergabung dalam kelompok delapan itu, menginginkan adanya perdamaian. Jangan sampai perang berlarut-larut terutama di Iran maupun di kawasan Teluk dan sebagainya,"
pungkasnya.
Sebenarnya, isu kesiapan Indonesia jadi mediator ini sudah sempat mencuat sebelumnya. Lewat pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri, pemerintah menyatakan Presiden Prabowo siap memfasilitasi dialog. Bahkan, jika disetujui semua pihak, dia bersedia terbang langsung ke Teheran. Langkah itu disebut sebagai bagian dari ikhtiar menciptakan keamanan yang kondusif kembali. Sebuah sinyal diplomatik yang cukup berani, dan kini menurut kabar dari Nusron tidak sendirian.
Artikel Terkait
Jepara Gelar Pameran Mebel Internasional dengan Konsep Jelajah Klaster Industri
Polisi Selidiki Pencurian Uang Takziah oleh Wanita Berpura-pura Melayat di Kramat Jati
DPR Dorong Insentif Pemerintah untuk Dongkrak Daya Saing Industri Makanan dan Minuman Lokal
Mantan Pejabat Kemendikbud Klaim Tak Tahu Aturan Proyek Laptop di Sidang Korupsi