ESG di Indonesia: Antara Komitmen Nyata dan Kelelahan akan Jargon

- Kamis, 05 Maret 2026 | 13:20 WIB
ESG di Indonesia: Antara Komitmen Nyata dan Kelelahan akan Jargon

Menurut sejumlah pengamat, dalam teori legitimasi, kepercayaan lahir ketika kinerja sesuai dengan harapan sosial. Jika bahasa yang digunakan terlalu megah, sementara buktinya terlalu sedikit, jurang ketidakpercayaan itu akan melebar. Bukan karena publik membenci konsep hijau, tapi mereka ingin melihat arah dan langkah yang konkret.

Indonesia, harus diakui, belum sampai pada fase kejenuhan total. Tapi kita jelas berada di persimpangan. Jika ESG terus dikomunikasikan sebagai slogan indah yang generik, skeptisisme akan tumbuh sebagai bentuk kelelahan yang sunyi.

Sebaliknya, jika prinsip keberlanjutan ini sungguh-sungguh memengaruhi keputusan investasi, tata kelola, dan operasional sehari-hari, barulah ia bisa menjadi fondasi reputasi yang kuat dan tahan lama.

Bagi para pemimpin perusahaan dan praktisi komunikasi, momen ini justru krusial. Keberlanjutan tak bisa lagi hanya jadi urusan divisi CSR atau proyek tahunan belaka.

Ia harus meresap ke dalam keputusan strategis, sistem insentif para manajer, dan indikator kinerja yang terukur. Komunikasi tidak boleh berlari lebih cepat dari kenyataan di lapangan, tapi juga tak boleh ketinggalan dari perubahan yang sudah terjadi.

Jadi, mungkin pertanyaan yang lebih jujur bukan tentang apakah publik sudah lelah dengan ESG. Tapi apakah kita, sebagai pelaku bisnis, punya nyali untuk menjadikannya bagian dari strategi yang nyata bukan sekadar hiasan kata-kata.

Karena pada akhirnya, keberlanjutan yang sejati lahir dari keputusan yang konsisten. Bahkan ketika keputusan itu berat dan tak populer.

Emmy Kuswandari.
Praktisi strategi komunikasi dan Mahasiswi S2 Komunikasi Korporat di Universitas Paramadina.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar