Istilah ESG kini bukan lagi bahasa asing di ruang-ruang rapat Jakarta. Dari laporan tahunan hingga presentasi untuk investor, konsep Environmental, Social, and Governance itu terus digaungkan. Tapi, ada pertanyaan yang mulai mengendap di benak banyak orang: apakah kita sebenarnya mulai bosan mendengarnya?
Di Bursa Efek Indonesia, dorongan untuk mengintegrasikan aspek keberlanjutan semakin kuat. Otoritas Jasa Keuangan pun tak ketinggalan, memperketat aturan pelaporan. Perusahaan-perusahaan besar, terutama, ramai-ramai mengumandangkan komitmen net-zero dan dekarbonisasi. Semua terlihat bergerak maju.
Namun begitu, di balik intensitas wacana itu, ada gejala kelelahan yang halus. Istilah "ESG fatigue" sendiri sudah jadi pembahasan serius di negara-negara Barat. Di Indonesia, mungkin belum sampai di titik jenuh total. Tapi coba perhatikan. Kita semakin sering mendengar jargon seperti "Menuju Net Zero 2060" atau "Berkomitmen pada Ekonomi Hijau". Frasa-frasa itu bagus, memang. Tapi jadi bermasalah saat semua perusahaan mengucapkan kata-kata yang nyaris sama persis.
Lalu, di mana pembedanya?
Publik sejatinya tak pernah menolak ide keberlanjutan. Yang membuat mereka lelah adalah janji-janji yang terdengar klise dan diulang-ulang dari satu korporasi ke korporasi lainnya. Pertanyaan sederhana kerap tak terjawab: berapa persen penurunan emisi tahun ini? Investasi hijau yang dialihkan ke mana saja? Standar apa yang benar-benar dipakai?
Di sisi lain, generasi muda di ruang digital tumbuh semakin kritis. Mereka tak hanya membaca klaim, tapi mengecek konsistensinya. Ketika terjadi insiden lingkungan atau masalah ketenagakerjaan di sebuah perusahaan, narasi keberlanjutannya langsung diuji di pengadilan publik.
Pertanyaannya pun bergeser. Bukan lagi "Apakah perusahaan ini punya komitmen?", melainkan "Apakah komitmen itu benar-benar mengubah cara mereka berbisnis?"
Inilah titik refleksi yang penting. Apakah ESG benar-benar kita jalankan sebagai strategi transformasi, atau sekadar jadi bahasa wajib untuk menghias presentasi dan laporan?
Artikel Terkait
BMKG Waspadai Tiga Bibit Siklon Tropis, Berpotensi Picu Hujan Lebat dan Gelombang Tinggi
Transjakarta Konfirmasi Pramudi Terlibat Cekcok dengan Pengemudi BYD di Jalur Busway
BI DIY Gelar Penukaran Uang Resmi Jelang Lebaran, Waspadai Peredaran Palsu
PB HMI Peringatkan Dampak Ketegangan Timur Tengah bagi Stabilitas Nasional