Di sisi lain, sumber pertahanan Sri Lanka yang lain punya gambaran lain. Menurut mereka, tampaknya Iris Dena terkena dua torpedo yang menghantam bagian tengah kapal secara mematikan.
Analis pertahanan ternama Sri Lanka, Rohan Gunaratna, mengkonfirmasi bahwa ia mendapat informasi serupa. “Saya telah diberitahu bahwa kapal tersebut menjadi sasaran AS dalam serangan torpedo dari kapal selam,” katanya. Gunaratna dikenal memiliki jaringan informasi yang luas di kalangan militer.
Serangan ini bukanlah insiden yang berdiri sendiri. Ia seperti babak baru dalam konflik yang sudah memanas. Keterlibatan AS jika benar menandai eskalasi yang serius. Sebelumnya, serangan militer besar-besaran AS telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan puluhan pejabat tinggi lainnya.
Iran pun tak tinggal diam. Mereka telah membalas dengan meluncurkan serangan rudal di berbagai titik di Timur Tengah dan menutup total Selat Hormuz jalur pengiriman minyak paling vital di dunia. Pertukaran serangan masih berlanjut hingga hari kelima, termasuk serangan Israel ke Teheran.
Dalam gejolak ini, posisi Sri Lanka cukup delicu. Presiden Anura Kumara Dissanayake lewat akun Twitternya justru menyatakan solidaritas dengan Uni Emirat Arab, yang menjadi sasaran serangan balasan Iran. “Sri Lanka berdiri teguh bersama UEA dan siap membantu dengan cara apa pun yang bisa dilakukan,” cuitnya.
Pernyataan itu tentu menarik. Sementara di lepas pantai selatannya, upaya penyelamatan untuk korban kapal Iran masih berjalan, dengan harapan menemukan lebih banyak lagi orang yang selamat dari tragedi kelam di laut itu.
Artikel Terkait
Sejarah Panjang Puasa: Dari Nabi Nuh hingga Kewajiban Ramadhan
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Sisik Trenggiling Senilai Rp183 Miliar di Tanjung Priok
Pemprov DKI Siapkan Sistem Peringatan Dini dan Patroli Antisipasi Kekeringan
Sidang Korupsi Plaza Klaten Ungkap Fakta Baru Soal Pinjaman dan Peran Mantan Bupati