AS-Israel Serang Iran, Perluasan Konflik Ancam Stabilitas Timur Tengah

- Rabu, 04 Maret 2026 | 18:40 WIB
AS-Israel Serang Iran, Perluasan Konflik Ancam Stabilitas Timur Tengah

Selama puluhan tahun, Netanyahu memandang Iran sebagai musuh paling berbahaya. Ia yakin penguasa Iran ingin bangun senjata nuklir untuk menghancurkan negara Yahudi.

Pada suatu Minggu, ia berdiri di atas atap di Tel Aviv dan menjelaskan pandangannya. "Israel dan AS bersama-sama akan mampu melakukan apa yang telah ingin dicapai selama 40 tahun: menghancurkan rezim teror secara total," katanya dengan tegas. Ia berjanji akan mewujudkannya.

Namun, perang selalu punya dimensi politik dalam negeri. Netanyahu, seperti Trump, akan menghadapi pemilu akhir tahun ini. Bedanya, posisinya lebih rentan. Banyak warga Israel menyalahkannya atas kelalaian keamanan yang memberi Hamas kesempatan menyerang pada Oktober 2023 lalu. Kemenangan telak atas Iran bisa jadi pengampunan politik, bahkan membuatnya tak terkalahkan di pemilu nanti.

Rezim Iran: Runtuh atau Justru Makin Kuat?

Pembunuhan pemimpin tertinggi Iran jelas pukulan besar. Tapi bukan jaminan rezim akan runtuh. Sudah hampir 50 tahun sejak Revolusi Islam, sistem ini dirancang untuk bertahan dari perang dan pembunuhan.

Berbeda dengan Suriah atau Libia yang bergantung pada satu keluarga, rezim Iran adalah jaringan institusi politik dan agama yang kompleks. Untuk bertahan, mereka mengelilingi diri dengan perlindungan kuat: aparat keamanan, penindasan, dan paksaan yang kejam.

Intinya ada di Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Lembaga ini punya mandat eksplisit melindungi rezim, dengan sekitar 190.000 personel aktif dan 600.000 cadangan. Mereka tak hanya punya doktrin agama, tapi juga kendali atas sebagian besar ekonomi. Loyalitas mereka kuat, baik secara ideologis maupun finansial.

IRGC didukung Basij, pasukan paramiliter sukarelawan sekitar 450.000 anggota, terkenal loyal dan bersedia melakukan kekerasan. Mereka jadi garis pertahanan pertama saat ada protes.

Trump mengancam akan menewaskan anggota IRGC dan Basij kecuali mereka menyerah. Ancaman itu kecil kemungkinan mengubah pikiran mereka. Republik Islam dan Islam Syiah dipenuhi pemikiran tentang mati syahid. Bahkan, beberapa analis menduga pemimpin mereka mungkin tetap bertahan di tempat meski tahu serangan datang, demi mencapai status syahid.

Dan rezim ini punya dukungan. Ribuan orang turun ke jalan di Teheran setelah pemimpin mereka wafat. Mereka berkumpul, menyalakan lilin dan senter ponsel, di tengah kepulan asak serangan udara.

Preseden yang Buruk, dan Taruhan Besar

AS dan Israel mungkin yakin kekuatan militer mereka bisa paksakan perubahan rezim tanpa bencana. Tapi presedennya suram. Penggulingan Saddam Hussein di Irak 2003 melahirkan perang bertahun-tahun dan gerakan jihadis ekstrem. Libia, negara kaya minyak, jadi negara gagal dan miskin setelah Gaddafi jatuh.

Iran jauh lebih besar dan kompleks. Luasnya hampir tiga kali Irak, dengan populasi multietnis lebih dari 90 juta jiwa. Jika rezim runtuh, skenario terburuknya adalah kekacauan dan perang saudara berdarah seperti di Suriah dan Irak.

Aksi militer AS-Israel saat ini memang menghancurkan kapasitas militer Iran dan mengubah dinamika Timur Tengah, bahkan jika rezim bertahan. Banyak warga Iran mungkin akan bersuka cita jika rezim jatuh. Tapi, menggantikan rezim yang digulingkan paksa dengan sesuatu yang damai dan teratur? Itu tantangan yang luar biasa berat.

Taruhan Trump bahwa perang ini akan buat Timur Tengah jadi lebih baik dan aman, jelas sangat-sangat menantang. Akhirnya, yang paling pasti hanyalah ketidakpastian itu sendiri.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar