Menlu: Presiden Prabowo Telpon Pemimpin Teluk, Indonesia Tawarkan Mediasi

- Rabu, 04 Maret 2026 | 11:40 WIB
Menlu: Presiden Prabowo Telpon Pemimpin Teluk, Indonesia Tawarkan Mediasi

Menteri Luar Negeri Sugiono membenarkan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah melakukan serangkaian panggilan telepon langsung. Sasaran pembicaraan itu adalah para pemimpin negara-negara Teluk, menyusul memanasnya ketegangan antara AS, Israel, dan Iran. Menurut Sugiono, komunikasi tingkat tinggi semacam ini memang sudah berjalan.

"Sudah telepon," ucap Sugiono kepada awak media, Rabu lalu.

Hanya saja, ada satu nama yang belum terjangkau: Pangeran Mohammed bin Salman, Putra Mahkota Arab Saudi. Rupanya, jadwal yang belum cocok menjadi penyebabnya. "Sudah telepon dan masih menunggu waktu MBS, belum bisa ketemu waktunya," jelasnya.

Soal isi percakapan yang dilakukan Prabowo, Sugiono mengaku tak punya rincian lengkap. Ia hanya menegaskan bahwa itu murni komunikasi antar-pemimpin negara.

"Ya komunikasinya ya komunikasi antarpemimpin," katanya, singkat.

Di sisi lain, Sugiono sendiri tak tinggal diam. Ia telah mengambil inisiatif menelepon Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Dalam percakapan itu, Indonesia menawarkan diri untuk jadi jembatan. Intinya, Jakarta siap memfasilitasi mediasi atau dialog apa pun yang bisa mencegah jatuhnya korban lebih banyak.

Lewat unggahan di akun X-nya pada Selasa, Sugiono menegaskan, "Indonesia siap memainkan peran konstruktif dalam memajukan perdamaian, termasuk menawarkan kesediaan kami untuk memfasilitasi dialog atau mediasi. Tujuannya jelas: mencegah eskalasi lebih lanjut dan menghentikan hilangnya nyawa orang tak bersalah secara tidak perlu."

Pesan utamanya sederhana tapi mendesak: semua pihak harus bisa menahan diri. De-eskalasi adalah langkah pertama yang mutlak diperlukan. Menurutnya, jalan satu-satunya yang layak ditempuh adalah melalui diplomasi dan dialog, bukan dengan konfrontasi. Hanya dengan begitu stabilitas di kawasan bisa dipulihkan.

"Indonesia mendesak semua pihak untuk menahan diri secara maksimal dan segera melakukan de-eskalasi," tegas Sugiono. "Dialog dan diplomasi adalah satu-satunya jalan yang layak menuju stabilitas regional."

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar