Malam itu di kompleks Istana, eks Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda berbagi cerita. Ia baru saja keluar dari sebuah diskusi tertutup yang digelar Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah mantan presiden dan wakil presiden. Suasana global yang makin pelik, terutama usai eskalasi di Timur Tengah, menjadi pokok pembicaraan yang serius.
“Khususnya soal perkembangan paling mutakhir, yaitu serangan Amerika dan Israel terhadap Iran,” kata Hasan kepada para wartawan yang menunggu, Selasa (3/3/2026) malam lalu.
Menurutnya, Prabowo secara mendalam mengupas implikasi konflik itu. Bukan cuma untuk kawasan Timur Tengah, tapi juga untuk tatanan dunia yang dianggapnya semakin rapuh. Mekanisme internasional, dalam pandangan yang disampaikan dalam forum itu, sudah tak efektif lagi menanggapi agresi militer.
“Lalu implikasinya buat kita apa? Buat dunia seperti apa?” ujar Hasan, menyitir pertanyaan yang mengemuka.
“Saat tatanan dunia tidak berfungsi, dan negara korban serangan militer tak punya tempat mengadu. PBB sudah tidak berperan. Aturan global, rule based order itu, cuma ada di atas kertas. Tidak ada kekuatan pemaksa, apalagi kalau yang terlibat negara-negara besar,” lanjutnya menjelaskan.
Prabowo sendiri, dalam forum itu, menggambarkan posisi Indonesia yang harus tetap bertahan. Jika dulu dunia kerap diibaratkan terjepit di antara “dua karang”, sekarang tekanan datang dari banyak arah sekaligus. Situasinya jauh lebih rumit.
“Dan itu tidak mudah,” kata Hasan.
“Karena itu dibahas implikasinya terhadap keamanan dan perdamaian global. Juga potensi efek perang ini pada ekonomi dunia, khususnya yang terkait supply minyak dan gas.”
Nah, soal dampak ekonomi ini rupanya jadi perhatian serius. Pemerintah disebutkan sedang menghitung-hitungan, mengkaji potensi gangguan pasokan energi global kalau perang terus meluas.
Artikel Terkait
Polisi Burut Tiga Anggota Jaringan Narkoba Usai Tangkap Bos Utama
Mega Maryati Gelar Pesta Ultah Mewah sebagai Self Reward di Usia 28
AS Tegaskan Tak Bisa Evakuasi Warga dari Israel, Imbau Buat Rencana Mandiri
Mantan Jenderal Soroti Peran Intelijen di Balik Serangan AS-Israel ke Iran