Sementara itu, dari Yordania, protes keras disampaikan langsung oleh juru bicara Kemenlu mereka, Fouad Al-Majali.
Data dari Kementerian Dalam Negeri Yordania mencatat, setidaknya ada 73 insiden jatuhnya serpihan rudal di berbagai wilayah mereka bukti nyata betapa dekatnya ancaman itu.
Tak cuma negara-negara Arab. Kekuatan Barat pun ikut angkat bicara. Inggris, Prancis, dan Jerman bergerak hampir berbarengan. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer bahkan menyetujui pengiriman jet tempur Typhoon ke Qatar, sebagai bentuk perlindungan untuk pangkalan sekutu. Meski bilang tak ingin eskalasi meluas, Starmer dan para pemimpin Eropa lainnya tetap bersikeras: Iran tidak boleh dibiarkan mengembangkan senjata nuklir.
Presiden Prancis Emmanuel Macron bersuara lebih gamblang. Ia menilai eskalasi ini berbahaya untuk semua pihak dan harus dihentikan. Lewat akun X-nya, Macron mendesak diadakannya pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB.
Pada akhirnya, situasinya runyam. Serangan balasan Iran telah memecah kesunyian diplomatik yang rentan di Timur Tengah. Sekarang, semua mata tertuju pada langkah berikutnya dari Teheran dan bagaimana komunitas internasional, yang kini tampak bersatu dalam kecaman, akan bertindak lebih jauh. Ketegangan masih menggantung, dan ancaman konflik yang lebih luas terasa nyata di udara.
Artikel Terkait
Polisi Burut Tiga Anggota Jaringan Narkoba Usai Tangkap Bos Utama
Mega Maryati Gelar Pesta Ultah Mewah sebagai Self Reward di Usia 28
AS Tegaskan Tak Bisa Evakuasi Warga dari Israel, Imbau Buat Rencana Mandiri
Mantan Jenderal Soroti Peran Intelijen di Balik Serangan AS-Israel ke Iran