Sore ini, Presiden Prabowo Subianto memanggil sejumlah menteri ke Istana. Rapat terbatas itu digelar untuk membahas langkah-langkah mitigasi, terutama menyusul memanasnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Intinya, bagaimana Indonesia mengantisipasi dampak dari perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, usai rapat, mengonfirmasi hal tersebut. Menurutnya, situasi di kawasan itu memang jadi perhatian utama.
"Mungkin menyangkut dengan kondisi terkini, geopolitik ya, menyangkut dengan penutupan Selat Hormuz Iran. Karena ini juga antisipasi tentang pasokan minyak dunia. Karena bagaimana pun kita masih melakukan impor sebelum Lebaran,"
Bahlil menjelaskan, ancaman penutupan selat strategis itu bisa mengganggu pasokan minyak global. Dan Indonesia, yang masih melakukan impor, tentu harus bersiap.
Dia juga berencana membahas persoalan ini lebih lanjut dengan Dewan Ekonomi Nasional. Alasannya sederhana: dampaknya sudah mulai terasa.
"Nanti, saya besok insyaallah akan rapat Dewan Energi Nasional. Rapat dulu baru saya laporkan. Perlahan-perlahan sebagian sudah ada perubahan harga naik,"
Namun begitu, Bahlil mencoba meyakinkan publik. Cadangan minyak nasional, katanya, masih aman untuk sekitar 20 hari ke depan. Sampai saat ini, belum ada gangguan yang dirasakan di dalam negeri, termasuk untuk BBM subsidi.
"Masih cukup, 20 hari. Sampai hari ini nggak ada masalah, tapi kan harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timteng,"
Lonjakan harga minyak dunia belakangan ini memang nyata. Sebelumnya, media internasional seperti BBC Indonesia melaporkan, harga minyak melonjak setelah setidaknya tiga kapal diserang di dekat Selat Hormuz. Serangan-serangan itu disebut-sebut sebagai balasan Iran atas aksi AS dan Israel.
Dua kapal dilaporkan terkena serangan. Satu kapal lainnya nyaris kena, dengan sebuah 'proyektil tak dikenal' yang meledak sangat dekat. Informasi ini datang dari Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris.
Iran sendiri sudah memberi peringatan keras agar kapal-kapal tidak melintasi selat itu. Padahal, selat sempit itu adalah jalur vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia.
Akibatnya, aktivitas pengiriman internasional nyaris mandek di pintu gerbang Teluk Persia. Banyak analis khawatir. Jika konflik ini berlarut, bukan tidak mungkin harga minyak akan melambung lebih tinggi lagi, dan dampaknya akan menjalar ke mana-mana.
Artikel Terkait
Gempa Magnitudo 3.0 Guncang Tapanuli Selatan
DPR Minta Kejelasan Pemerintah soal Nasib RUU Inisiatif, Termasuk Perlindungan PRT
Kades dan Kontraktor Klaten Ditahan Terkait Dugaan Korupsi Dana Renovasi Masjid Rp 203 Miliar
Iran Tegaskan Hak Nuklirnya Tak Bisa Ditawar, Desak AS Tunjukkan Itikad Baik