"Tahu. Karena memang kebetulan dunia tiba-tiba LNG naik," balas Ahok dengan lugas.
Rupanya, Hari belum puas. Ia lalu melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih menusuk. Ia menanyakan apakah topik keuntungan LNG ini pernah dibahas dalam rapat-rapat internal, dan yang lebih penting, mengapa Ahok tak pernah sekalipun mengucapkan terima kasih atas keuntungan yang didapat perusahaan itu.
Ahok tampak berusaha meluruskan duduk persoalan.
"Saya bukan, bukan persoalan ini jadi untung. Jadi jangan salah paham. Persoalannya...," ujarnya.
Sayangnya, sekali lagi, penjelasannya terpotong di tengah jalan.
"Nggak. Saya, pertanyaan saya, Bapak tahukah untung?" sahut Hari, bersikukuh pada pertanyaan awalnya.
Pertukaran kata-kata yang alot ini menunjukkan betapa rumitnya kasus ini. Di sisi lain, sidang seperti ini mengungkap dinamika internal yang jarang terlihat oleh publik. Nuansa naratif dari percakapan mereka memberi gambaran bahwa persoalannya bukan hitam putih semata, meski fakta hukumnya tetap harus ditegakkan.
Artikel Terkait
Gubernur Kaltim Batalkan Pengadaan Range Rover Rp 8,5 M, KPK Apresiasi
Kejagung Ajukan Banding, Sebut Vonis Korupsi Minyak 2018-2023 Terlalu Ringan
Menteri Pertahanan Israel Tandai Pemimpin Hizbullah sebagai Target Eliminasi
Luhut Kenang Keteladanan dan Loyalitas Try Sutrisno di Pemakaman Terakhir