Pasar Smartphone Global Diprediksi Anjlok 12,9%, Terburuk dalam Satu Dekade

- Minggu, 01 Maret 2026 | 07:45 WIB
Pasar Smartphone Global Diprediksi Anjlok 12,9%, Terburuk dalam Satu Dekade

Pasar ponsel pintar global sedang menuju kejatuhan yang cukup signifikan tahun ini. Menurut prediksi terbaru dari firma analis International Data Corporation (IDC), pengiriman perangkat bakal merosot tajam, sekitar 12,9 persen. Ini bukan penurunan biasa ini disebut-sebut akan jadi yang terburuk dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir.

Penyebab utamanya? Kelangkaan komponen memori yang parah. Tak lama setelah IDC merilis laporannya, Counterpoint Research juga menyuarakan hal serupa. Mereka memproyeksikan pasar akan menyusut sekitar 12 persen sepanjang 2026.

Angkanya cukup mencengangkan. Tahun lalu, produsen berhasil mengirimkan sekitar 1,26 miliar unit. Nah, tahun ini, angka itu diprediksi terjun bebas ke level 1,12 miliar unit saja. Situasinya memang suram.

Nabila Popal, Senior Research Director di IDC Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker, memberikan penilaian yang cukup keras. Menurutnya, krisis ini bukan cuma gangguan sementara.

"Ini menandai penataan ulang struktural di seluruh pasar," ujarnya. "Dampaknya akan membentuk ulang lanskap vendor, komposisi produk, bahkan total pasar yang bisa digarap ke depannya."

Efek domino dari kelangkaan ini sudah terasa. Nabila menyebut, harga ritel rata-rata ponsel pintar dipaksa naik sekitar 14 persen. Rata-rata harga jualnya bahkan diproyeksikan mencetak rekor baru: 523 dolar AS. Sementara volume pengiriman anjlok, harga malah melambung.

Kondisi seperti ini, lanjutnya, berpotensi memicu konsolidasi. Pemain kecil kemungkinan besar akan tersingkir perlahan-lahan. Vendor yang mengandalkan segmen harga rendah juga terancam. Pasokan terbatas, ditambah permintaan yang melemah di level harga lebih tinggi, membuat posisi mereka semakin sulit.

Bahkan, ada risiko nyata bagi ponsel pintar super murah. Model yang harganya di bawah 100 dolar AS disebut-sebut bisa jadi tidak ekonomis lagi untuk diproduksi. Selamanya.

Dari sisi regional, dampaknya tidak merata. Kawasan Timur Tengah dan Afrika diperkirakan akan mengalami pukulan terberat, dengan penurunan pengiriman lebih dari 20 persen. China diproyeksikan turun 10,5 persen, sementara Asia Pasifik (kecuali Jepang) sekitar 13,1 persen. Kapan situasi membaik? IDC memperkirakan harga RAM baru baru akan stabil sekitar pertengahan 2027.

Namun begitu, bukan berarti semua segmen terpuruk sama dalam. Analis Counterpoint menilai, segmen ponsel premium relatif lebih tahan banting menghadapi tekanan ini. Masalahnya ada di ponsel kelas bawah. Segmen di bawah 200 dolar AS diprediksi bisa merosot hingga 20 persen.

Yang Wang, Principal Analyst di Counterpoint, punya pandangan. Ia menyebut dampak kelangkaan memori ini akan berlanjut hingga paruh kedua 2027. Soalnya, butuh waktu berkuartal-kuartal untuk menambah pasokan.

"Kenaikan harga 10 sampai 20 persen sebenarnya sudah terjadi di sejumlah portofolio vendor Android sejak Januari lalu," catat Wang.

Ada efek samping yang menarik dari kekacauan ini. Counterpoint menambahkan, ketidakstabilan harga perangkat baru justru berpotensi mendongkrak pasar ponsel bekas. Logis saja, ketika barang baru mahal, orang akan mencari alternatif.

Peringatan soal kenaikan harga ini sebenarnya sudah disuarakan lebih dulu oleh beberapa pelaku industri. Carl Pei, CEO dan pendiri Nothing, misalnya. Ia sudah mengingatkan bahwa harga ponsel pintar akan naik pada 2026 karena biaya memori yang melambung.

"Produsen dihadapkan pada pilihan yang sulit," kata Pei. "Menaikkan harga hingga 30 persen, atau menurunkan spesifikasi perangkat mereka."

Model bisnis yang menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga murah, menurutnya, akan sulit bertahan dalam situasi seperti ini. Masa depan pasar ponsel, setidaknya untuk beberapa tahun ke depan, tampaknya akan didominasi oleh gejolak dan penyesuaian yang tidak mudah.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar