Iran Tutup Selat Hormuz, Pasokan Energi Global Terancam Pasca Serangan AS-Israel

- Minggu, 01 Maret 2026 | 01:10 WIB
Iran Tutup Selat Hormuz, Pasokan Energi Global Terancam Pasca Serangan AS-Israel

Serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke Iran ternyata memicu gelombang efek yang jauh lebih besar. Kini, Selat Hormuz jalur laut super vital untuk minyak dan gas dunia terancam ditutup oleh Iran. Situasinya benar-benar memanas.

Menurut kabar yang beredar, Garda Revolusi Iran sudah mengeluarkan peringatan keras. Intinya, selat itu dinyatakan tidak aman untuk dilintasi siapa pun. Faktor keamanan jadi alasan utamanya, menyusul aksi militer AS-Israel dan respons balasan dari Teheran.

Kantor berita Tasnim melaporkan pernyataan resmi dari Garda Revolusi.

"Berbagai kapal telah kami peringatkan. Kondisi di sekitar selat sedang tidak aman akibat agresi militer AS dan Israel, serta tanggapan Iran. Melewati wilayah ini saat ini berisiko tinggi," begitu bunyi laporannya, seperti dikutip AFP, Minggu (1/3/2026).

Pernyataan itu tidak secara gamblang menyebut "penutupan", tapi implikasinya jelas. Lalu lintas kapal dan tanker dihentikan. Pada praktiknya, selat itu sudah tidak bisa dilewati.

"Dengan penghentian lalu lintas kapal dan tanker melalui Selat Hormuz, selat tersebut pada dasarnya telah ditutup," tegas keterangan resmi mereka.

Informasi serupa juga dilaporkan Gulf News. Kapal-kapal yang berada di perairan sekitar telah mendengar pengumuman serupa melalui siaran radio. Peringatannya langsung: tidak ada izin melintas untuk sementara waktu.

Ini masalah besar. Selat Hormuz bukan jalur sembarangan. Letaknya di Teluk Arab dan menjadi urat nadi energi global terutama bagi sekutu-sekutu AS. Ketegangan meledak setelah serangan rudal AS dan Israel pada Sabtu lalu.

Posisi geografis Iran memberi pengaruh besar. Negeri itu berada di pesisir utara selat dan mengendalikan akses utamanya. Dengan kata lain, Teheran punya kendali signifikan atas jalur yang bukan hanya untuk ekspor minyaknya sendiri, tapi juga untuk sebagian besar pasokan energi dunia. Sekarang, kendali itu mereka gunakan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar