"Kita harus memberi sinyal kuat kepada investor," tegas Eddy.
"Sinyal bahwa Indonesia serius membangun 'low carbon economy'. Sekaligus, kita juga perlu memberi ruang bagi industri dalam negeri untuk melakukan dekarbonisasi secara bertahap. Tujuannya agar mereka tetap kompetitif di pasar global yang semakin rendah karbon."
Mengenai SRUK, Eddy punya pandangan yang lebih mendalam. Baginya, ini bukan sekadar sistem pencatatan biasa. Ini adalah fondasi kepercayaan pasar. Seluruh bangunan ekonomi karbon nantinya akan bertumpu pada integritas data, transparansi, dan keterlacakan yang dijamin sistem ini.
"Oleh karena itu, SRUK harus mampu menjamin transparansi sekaligus mentaati standar internasional," ungkapnya.
"Kredibilitas pasar karbon Indonesia harus diakui secara global."
Lebih dari itu, sistem ini perlu dibangun dengan tata kelola yang kuat dan keamanan yang andal. Kesiapan untuk berinteraksi dengan ekosistem internasional juga mutlak. Pada akhirnya, kepercayaan terhadap sistem akan menentukan kepercayaan terhadap pasar itu sendiri.
Di akhir pembicaraan, Eddy menyimpan optimisme. Dia yakin, dengan kekompakan seluruh pemangku kebijakan lintas kementerian dan lembaga di bawah kepemimpinan Menko Pangan, Indonesia akan punya industri karbon yang kuat.
"Industri yang kredibel," pungkasnya.
"Yang bisa mendatangkan manfaat ekonomi bagi negara dari udara yang bersih dan hutan yang sehat."
Artikel Terkait
Anggota DPR Peringatkan Dampak Serangan Israel ke Iran ke Stabilitas Global dan Ekonomi Indonesia
KBRI Tehran Pastikan 329 WNI di Iran Aman Usai Serangan Rudal
Kemdikti dan Komnas Perempuan Perkuat Kolaborasi untuk Kampus Bebas Kekerasan Seksual
BNPB Imbau Waspada Cuaca Ekstrem dan Potensi Banjir-Longsor Sepekan ke Depan