Di tengah hawa lembab Jambi, Kamis lalu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon meresmikan penataan besar-besaran di Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi. Acara yang sederhana namun penuh makna itu ditandai dengan penandatanganan prasasti. Beberapa candi, seperti Parit Duku, Gedong I, dan Teluk 1, kini tampak lebih terawat usai menjalani proses pemugaran. Langkah ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah pernyataan nyata pemerintah komitmen untuk melindungi warisan nenek moyang kita, lalu mengembangkannya agar bisa dinikmati generasi sekarang.
Fadli Zon dengan tegas menyebut Muarajambi sebagai salah satu situs terpenting di Indonesia. Bahkan, nilainya mendunia. Menurutnya, kawasan seluas hampir 4.000 hektar ini adalah bukti kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Dulu, tempat ini bukan cuma sekumpulan candi. Ia berfungsi sebagai pusat pembelajaran agama Buddha yang masyhur, semacam universitas kuno yang megah.
"Muarajambi ini luar biasa," ujarnya dalam keterangan tertulis di hari berikutnya.
"Bayangkan, luasnya mencapai sekitar 3.950 hektar dan tersusun dari kurang lebih 115 struktur candi. Dari temuan para arkeolog, kawasan ini hidup dari abad ke-6 hingga ke-13. Kompleks yang sangat besar, sungguh."
Hingga saat ini, baru dua belas candi yang berhasil dipugar. Itu artinya, masih banyak pekerjaan rumah. Ke depan, Kementerian Kebudayaan berjanji akan mempercepat pemugaran situs-situs utamanya. Tapi tentu saja, semua proses harus mengutamakan prinsip keaslian dan ketelitian ilmiah. Pengawasan dari para ahli mutlak diperlukan.
"Revitalisasi dan pemugaran Muarajambi harus dilakukan dengan pendekatan yang tepat," jelas Fadli.
"Kami membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta, namun seluruh prosesnya tetap berada dalam pengawasan ketat para arkeolog, sejarawan, dan tentu saja tokoh-tokoh umat Buddha yang paham betul nilai spiritual tempat ini."
Pentingnya Muarajambi ternyata sudah diakui sejak berabad-abad lalu. Fadli menyebut sejumlah tokoh besar dunia Buddhisme, seperti Atisha dan Dharmakirti, konon pernah menimba ilmu di sini. Bahkan, ada bukti sejarah menarik: sebuah prasasti tembaga dari abad ke-9 yang dikirim Raja Balaputradewa ke penguasa Dinasti Pala di India. Isinya berkaitan dengan pendirian pusat pembelajaran di Nalanda. Fakta ini mengungkap sesuatu yang menakjubkan: jaringan intelektual Muarajambi mungkin sudah terbentuk lebih awal daripada Nalanda yang termasyhur itu.
Di sisi lain, upaya penataan fisik terus bergulir. Lewat Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah V, pemerintah menggarap area seluas 150 hektar lebih. Mereka membangun jalan penghubung, menormalisasi kanal tua, menyediakan toilet, serta merancang ruang-ruang untuk aktivitas budaya yang melibatkan warga sekitar. Tujuannya jelas: menghidupkan kembali kawasan itu.
Revitalisasi tak cuma soal batu dan bangunan. Ekosistem ekonomi dan budaya lokal juga digarap serius. Dukungan untuk UMKM, kelompok kreatif, pengelolaan perahu kanal, hingga pasar dusun digalakkan. Konsep living museum pun sedang dirintis dan rencananya mulai berjalan tahun depan. Tak ketinggalan, pembangunan museum baru di lahan 30 hektar sedang dalam tahap penyelesaian. Museum itu nantinya akan dilengkapi ruang koleksi, teater, amphitheater, hingga area untuk kuliner dan cenderamata.
Meski begitu, jalan masih panjang. Dari 115 struktur cagar budaya yang ada, pemugaran baru menyentuh 12 candi. Candi Teluk, Tinggi, Gedong I, Parit Duku, dan Koto Mahligai adalah beberapa yang sudah dipugar. Proses pelestarian tentu akan berlanjut setahap demi setahap, mengingat kompleksitas dan sensitivitas pekerjaannya.
Peresmian Kamis itu dihadiri oleh sejumlah tokoh kunci. Gubernur Jambi Al Haris, Ketua Umum WALUBI Hartati Murdaya, hingga Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan Restu Gunawan hadir memberikan dukungan. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa pelestarian Muarajambi adalah kerja kolektif.
Menutup rangkaian acara, Fadli Zon menyampaikan harapannya. Ia ingin Muarajambi ke depan bukan sekadar monumen mati yang dikunjungi turis.
"Kita ingin Muarajambi berkembang sebagai destinasi wisata religi, wisata budaya, wisata sejarah, sekaligus wisata alam dan kuliner," tandasnya.
"Dengan kolaborasi semua pihak, Muarajambi diharapkan tumbuh sebagai ruang hidup kebudayaan. Memberi manfaat nyata bagi warga sekitar, sekaligus menarik minat wisatawan nusantara dan mancanegara."
Impiannya besar: menjadikan waritan masa lalu sebagai motor penggerak masa depan.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi