Dia lalu bercerita tentang perjalanan filantropinya. Awalnya hanya untuk 200 orang. Lalu bertahap naik menjadi 500, 1.500, 2.500, hingga akhirnya mencapai 3.500 orang.
Baginya, rekor MURI ini lebih dari sekadar piagam atau pengakuan nasional. Ini adalah pelajaran hidup yang berharga, terutama untuk ketiga anaknya.
“Penghargaan ini saya dedikasikan untuk keluarga, suami, dan anak-anak. Juga untuk ibu dan ayah saya,” katanya.
“Apa yang mereka ajarkan, saya wariskan ke anak-anak. Bukan cuma kerja keras, tapi juga adab dan pentingnya berbagi.”
Dia menegaskan, dua rekor MURI untuk pembagian 3.000 selimut dan sarung itu adalah contoh nyata. Sebuah pelajaran agar anak-anaknya kelak bisa meneruskan tradisi baik ini, bahkan ketika dia sudah tiada.
“Saya yakin anak-anak bisa jadi dokter yang lebih baik dari saya. Saya ingin mereka begitu,” tegas dr. Ayu.
Harapannya sederhana: semua penghargaan ini bisa memotivasi orang lain. Agar terus berkarya, berprestasi di bidang masing-masing, dan tentu saja, memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia.
Artikel Terkait
FPTI Bentuk Tim Investigasi Dugaan Kekerasan terhadap Delapan Atlet Panjat Tebing
Trump Serukan Warga Iran Gulingkan Pemerintah Usai Serangan Udara AS-Israel
KBRI Manama Konfirmasi Serangan ke Pangkalan AS di Bahrain, Imbau WNI Waspada
John Herdman Hadapi Ujian Perdana Saat Indonesia Jadi Tuan Rumah FIFA Series 2026