Komitmen itu rupanya terasa. Guru di sekolah tersebut, Komala Sari, melihat perubahan pada siswanya. Mereka jadi lebih aktif dan percaya diri. "Media pembelajarannya kan dekat dengan kehidupan mereka. Akhirnya mereka paham, oh ternyata numerasi ada di sekeliling kita. Mereka belajar sambil bermain, jadi tantangannya malah jadi menarik," jelas Komala.
Di sisi lain, ada perbedaan menarik dengan cara Jepang. Kalau di Negeri Sakura, pembelajaran numerasi banyak memanfaatkan lingkungan sekitar secara kontekstual dan mendorong eksperimen mandiri, Taman Numerasi ala Indonesia ini hadir lebih terstruktur. Ada ruang fisik khusus yang memang dirancang eksplisit untuk menguatkan kemampuan berhitung, terintegrasi dengan pendekatan STEM.
Guru lainnya, Rindy Afrizal, punya pandangan. Baginya, INTAN adalah bukti nyata bahwa transformasi pendidikan bisa dimulai dari tingkat sekolah. "Ketika guru diberi ruang untuk berkreasi, dampaknya langsung terlihat. Siswa tumbuh jadi pembelajar yang tidak pasif, tapi aktif dan bisa beradaptasi," katanya.
Inisiatif seperti ini sejalan dengan gerakan besar Kementerian Pendidikan. Upaya mendorong Gerakan Numerasi Nasional sebagai bagian dari transformasi pembelajaran mendapat bentuk nyatanya di tempat seperti INTAN. Di sini, guru berperan sebagai fasilitator yang menyesuaikan metode dengan kebutuhan masing-masing anak.
Ketertarikan Jepang terhadap praktik baik ini jelas sebuah angin segar. Ini menunjukkan bahwa inovasi pendidikan kita punya daya saing, bahkan di mata negara yang sistem pendidikannya sudah maju. Harapannya, cerita dari Meruya Selatan ini bisa menginspirasi lebih banyak sekolah lagi untuk menciptakan ruang belajar yang lebih hidup, kontekstual, dan siap menjawab tantangan zaman.
Artikel Terkait
China Bantah Keras Laporan AS Soal Pengiriman Senjata ke Iran
TKA Tak Lagi Momok, Siswa di Riau Semakin Percaya Diri
Warga China Tewas Terseret Ombak di Pantai Cibobos Pandeglang
Imigrasi Amankan 346 WNA, Warga China Terbanyak dalam Operasi Wirawaspada 2026