Oleh: Lidya Thalia.S
PEKANBARU Ada pergeseran yang menarik terjadi di sejumlah sekolah menengah pertama. Tes Kemampuan Akademik atau TKA, yang dulu kerap dianggap momok menakutkan, kini mulai dipandang dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sekadar ujian penuh tekanan, tapi lebih sebagai alat ukur yang memacu semangat belajar. Perubahan cara pandang ini tampak nyata, merasuk ke murid, guru, hingga kebijakan di satuan pendidikan.
Ambil contoh di Kabupaten Pelalawan, Riau. Di SMP Negeri Bernas, kegelisahan awal para siswa perlahan berubah jadi kepercayaan diri. Fidelia Noviyanti Hutagaol, siswi kelas IX, mengaku deg-degan saat pertama kali mendengar namanya. Namun begitu soal-soal itu dikerjakan, ketakutannya mereda.
Menurut Fajar Riza Ul Haq, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, perubahan persepsi inilah yang justru diharapkan. Ia menegaskan, TKA sama sekali bukan beban.
Di sisi lain, pengalaman serupa diungkapkan banyak murid lainnya. Soal-soal TKA dinilai memiliki tingkat kesulitan yang wajar, bisa dikerjakan asal siswa sudah mendapat latihan memadai di sekolah. Nah, di sinilah peran guru menjadi krusial.
Guru-guru di SMP Bernas, misalnya, punya strategi sederhana. Mereka menyelipkan latihan soal TKA ke dalam pembelajaran harian. Savitri Oktavia, salah seorang guru di sana, menjelaskan pendekatannya.
Kepala sekolah, Marisah, melihat dampak positifnya. Ia merasa murid-murid jadi lebih giat. Ada motivasi baru untuk menunjukkan kemampuan terbaik.
Artikel Terkait
Diskusi Publik Soroti Kebebasan Sipil dan Tantangan Demokrasi di Indonesia
Bupati Tulungagung Tersangka KPK, Diduga Pakai Surat Sakti untuk Paksa Pejabat
Papan Pintar IFP Tingkatkan Antusiasme Belajar Siswa di Pati
Jaksa Agung Mutasi 14 Pimpinan Kejaksaan Tinggi, Termasuk Dirtut Jampidsus