TKA Tak Lagi Momok, Siswa di Riau Semakin Percaya Diri

- Senin, 13 April 2026 | 16:45 WIB
TKA Tak Lagi Momok, Siswa di Riau Semakin Percaya Diri

Oleh: Lidya Thalia.S


PEKANBARU Ada pergeseran yang menarik terjadi di sejumlah sekolah menengah pertama. Tes Kemampuan Akademik atau TKA, yang dulu kerap dianggap momok menakutkan, kini mulai dipandang dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sekadar ujian penuh tekanan, tapi lebih sebagai alat ukur yang memacu semangat belajar. Perubahan cara pandang ini tampak nyata, merasuk ke murid, guru, hingga kebijakan di satuan pendidikan.

Ambil contoh di Kabupaten Pelalawan, Riau. Di SMP Negeri Bernas, kegelisahan awal para siswa perlahan berubah jadi kepercayaan diri. Fidelia Noviyanti Hutagaol, siswi kelas IX, mengaku deg-degan saat pertama kali mendengar namanya. Namun begitu soal-soal itu dikerjakan, ketakutannya mereda.

“Awalnya deg-degan karena belum pernah ikut. Tapi setelah dijalani, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Menurut Fajar Riza Ul Haq, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, perubahan persepsi inilah yang justru diharapkan. Ia menegaskan, TKA sama sekali bukan beban.

“Ini ibarat medical check-up dalam pendidikan. Kita butuh tahu kondisi sebenarnya agar kebijakan kita nanti berbasis data, bukan sekadar perkiraan,” tegas Fajar.

Di sisi lain, pengalaman serupa diungkapkan banyak murid lainnya. Soal-soal TKA dinilai memiliki tingkat kesulitan yang wajar, bisa dikerjakan asal siswa sudah mendapat latihan memadai di sekolah. Nah, di sinilah peran guru menjadi krusial.

Guru-guru di SMP Bernas, misalnya, punya strategi sederhana. Mereka menyelipkan latihan soal TKA ke dalam pembelajaran harian. Savitri Oktavia, salah seorang guru di sana, menjelaskan pendekatannya.

“Kami bahas soalnya pelan-pelan di jam pelajaran. Jadi anak-anak belajar tanpa merasa sedang dipersiapkan khusus untuk ujian yang menakutkan,” kata Savitri.

Kepala sekolah, Marisah, melihat dampak positifnya. Ia merasa murid-murid jadi lebih giat. Ada motivasi baru untuk menunjukkan kemampuan terbaik.

“Pada akhirnya, TKA ini bagus untuk mengukur dua hal: potensi murid dan sejauh mana sekolah bisa membimbing mereka,” ujar Marisah.

Sementara itu di Kota Pekanbaru, pelaksanaan TKA berjalan tanpa kendala berarti. Rukiah, Kepala SMP Negeri 4 Pekanbaru, melaporkan partisipasi penuh dari seluruh murid kelas IX. Menurutnya, materi ujian sejalan dengan apa yang telah diperkuat di sekolah, baik literasi maupun numerasi.

Ia juga menambahkan, hasil TKA bisa menjadi salah satu pertimbangan penting, terutama untuk jalur prestasi dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).

Perubahan sikap jelas terasa. Muhammad Gafasyarianto, siswa SMP Negeri 4 Pekanbaru, mengakui awalnya ia takut. Tapi rasa takut itu berubah jadi motivasi setelah melalui proses belajar dan latihan yang intens.

“Sekarang malah lebih semangat. Soalnya, TKA membantu saya tahu di mana posisi kemampuan saya sebenarnya,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, pelaksanaan TKA tak cuma lancar dari sisi teknis dari komputer, jaringan internet, hingga listrik. Yang lebih penting, asesmen ini berhasil mengubah pola pikir. Kini, TKA mulai dipahami sebagai bagian dari proses pembelajaran yang reflektif. Ia mendorong kejujuran, kesiapan, dan keberanian siswa untuk mengintip kemampuan diri sendiri.

Perubahan mendasar ini, meski perlahan, diharapkan bisa menjadi fondasi. Fondasi untuk membangun budaya belajar yang lebih sehat dan berkelanjutan ke depannya.


Editor: Redaktur TVRINews

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar