Di Kabupaten Bengkulu Tengah, Kamis lalu, suasana di sekitar Masjid Padang Betuah terasa berbeda. Menteri Kebudayaan Fadli Zon hadir untuk meresmikan pemugaran cagar budaya yang satu ini. Langkah ini jelas bukan sekadar perbaikan bangunan, tapi upaya nyata untuk menguatkan pelestarian jejak peradaban Islam di wilayah itu.
"Kita memang harus menghargai jejak perjalanan para pendahulu," ujar Fadli Zon.
Dia menambahkan, saat ini pemerintah sedang mendorong akselerasi dalam hal perlindungan, pengembangan, hingga pemanfaatan cagar budaya. "Saat ini kita melakukan akselerasi dalam perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatannya," tegasnya.
Masjid yang berdiri kokoh sejak abad ke-19 ini bukanlah bangunan biasa. Ia adalah saksi bisu. Sebuah bukti sejarah perkembangan Islam sekaligus contoh arsitektur tradisional Bengkulu yang masih bertahan. Keberadaannya menandai proses penyebaran agama Islam di pesisir Sumatera, tumbuh beriringan dengan dinamika sosial masyarakat setempat.
Menurut Menbud, cerita dan sejarah punya peran sentral. Dari situlah kita bisa belajar.
"Cerita atau sejarah adalah bagian yang sangat penting, karena dari situlah kita dapat melakukan refleksi, literasi, dan edukasi," paparnya.
Pandangan serupa disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni. Bagi dia, merawat cagar budaya punya makna yang lebih dalam dari sekadar menjaga fisik bangunan tua.
Artikel Terkait
Keluarga Daeng Mamala Hibahkan 20 Hektare untuk Pesantren dan RS Al-Khairaat di Morut
Aturan Ganjil-Genap Tetap Berlaku di Jakarta Usai Libur Natal dan Tahun Baru
BMKG: Hujan Ringan Guyur Banyak Wilayah, Waspada Potensi Hujan Petir di Bandung dan Lampung
The Story So Far dan New Found Glory Batal Tampil di Hammersonic 2026