Kedua, kecelakaan fondasi. Ini terjadi ketika puasa berjalan, tapi shalat justru terbengkalai. Ada yang disiplin banget menahan makan minum, tapi longgar dalam shalat wajib. Tarawih semangat, tapi Subuh berat bangunnya. Padahal, shalat itu tiang agama. Kalau fondasinya retak, bangunan spiritual kita bisa ambruk. Kecelakaannya jadi berlapis: puasa kehilangan daya ubahnya, sementara shalat kehilangan ruhnya.
Ketiga, kecelakaan perilaku. Nabi ﷺ bersabda, siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta (zur), maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. Zur di sini enggak cuma soal bohong verbal. Ia mencakup semua bentuk dosa dan kesia-siaan; fitnah, caci maki, ujaran kebencian, sampai perilaku di dunia digital yang merusak dan buang-buang waktu.
Di sinilah salah kaprah sering terjadi. Banyak yang pikir Ramadan cuma berlangsung dari sahur sampai buka puasa. Seolah kewajiban menahan diri berhenti pas azan Magrib berkumandang. Padahal, Ramadan itu pendidikan 24 jam penuh. Kalau siang kita menahan lapar, tapi malamnya malah tenggelam dalam kesia-siaan, ya esensi puasanya langsung tercederai. Ini namanya kecelakaan perilaku: ibadah jalan secara administratif, tapi karakter kita enggak bergerak sedikit pun.
Keempat, ini yang paling berat: kecelakaan tanpa ampunan. Ramadan kan bulan pengampunan. Tapi Nabi ﷺ sampai menyebut celaka orang yang dapat Ramadan, tapi tidak dapat ampunan di dalamnya. Paradoks yang serius, bukan? Bagaimana mungkin bulan penuh rahmat ini tidak meninggalkan bekas penghapusan dosa?
Jawabannya sebenarnya sederhana. Itu terjadi karena puasa dan seluruh rangkaian ibadahnya dijalani tanpa kesungguhan hati. Ramadan bukan ritual tahunan biasa. Ia momentum untuk berubah. Kalau setelah sebulan penuh kita tetap sama bicara masih kasar, sikap masih angkuh, kebiasaan buruk masih melekat berarti ada yang keliru dalam cara kita berpuasa.
Di Antara Dua Kemungkinan
Jadi, puasa itu peluang besar menuju takwa. Tapi ingat, peluang selalu punya sisi risiko.
Tanpa niat lurus, tanpa fondasi shalat yang kokoh, tanpa pengendalian diri sepanjang hari, dan tanpa kesungguhan mencari ampunan, puasa bisa kehilangan maknanya. Bisa jadi sekadar rutinitas, atau lebih parah, sebuah "kecelakaan".
Kita sering merasa aman hanya karena sudah berpuasa. Padahal, yang membatalkan nilai puasa bukan cuma makanan dan minuman, tapi juga hati yang enggan tunduk.
Kecelakaan terbesar di Ramadan bukanlah rasa lapar. Tapi saat bulan suci itu berlalu, sementara diri kita tetap sama persis seperti sebelumnya. Takwa yang dijanjikan itu, tak juga kunjung kita raih.
Wahyuddin Luthfi Abdullah. Dosen Pendidikan Agama Islam, Universitas Andalas, Padang.
Artikel Terkait
KPK Periksa Bendahara KONI Madiun Terkait Kasus Wali Kota Nonaktif Maidi
Trump Serukan Pengusiran Omar dan Tlaib Usai Diteriaki di Kongres
Bank Indonesia Imbau Masyarakat Patuhi Syarat dan Prosedur Pemesanan Online untuk Penukaran Uang Baru
Virgoun Resmi Menikahi Lindi Fitriyana dalam Akad Nikah Tertutup di Tangsel