“Tak hanya event, diperlukan juga promosi yang masif dan terukur guna mempromosikan kekayaan budaya Bengkulu. Dengan begitu, akan semakin banyak masyarakat yang datang ke sini,” tegasnya.
Lebih dari sekadar pariwisata, Fadli menegaskan satu hal penting: kebudayaan harus jadi fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan. Sektor budaya, dalam pandangannya, mampu menciptakan ekosistem ekonomi baru. Industri budaya yang berkembang akan membuka ruang bagi talenta-talenta kreatif lokal, mulai dari seni pertunjukan, musik, film, hingga sastra dan seni rupa.
Benteng Marlborough sendiri adalah saksi bisu kolonialisme Inggris. Dibangun antara 1714 hingga 1719 oleh East India Company di bawah pimpinan Joseph Collett, benteng yang terletak di Kota Bengkulu ini kini dikelola oleh Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya. Fungsinya pun telah berkembang; selain sebagai destinasi wisata, ia juga menjadi ruang aktif bagi berbagai aktivitas kebudayaan.
Melalui kunjungan ini, harapannya jelas: Benteng Marlborough bisa bertransformasi menjadi pusat kebudayaan yang dinamis, inklusif, dan produktif. Jika itu terwujud, benteng ini bukan hanya akan menggerakkan ekosistem budaya setempat, tapi juga memperkuat identitas daerah, mendongkrak partisipasi masyarakat, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif yang berbasis warisan.
Dalam kunjungan tersebut, Fadli Zon didampingi sejumlah pejabat. Di antaranya adalah Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga Rachmanda Primayuda, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Bengkulu Iskandar Mulia Siregar.
Artikel Terkait
Ketua Komisi III Bantah Intervensi DPR dalam Kasus Sabu Dua Ton Batam
Raja Abdullah II Antar Langsung Prabowo hingga ke Pesawat di Amman
Polisi Ungkap Pencurian Motor yang Dibekali Senjata Api Rakitan di Pulogadung
Ramadan dan Risiko Kecelakaan Spiritual dalam Ibadah Puasa