Lebih dari dua ribu warga Nabire masih mengantre untuk berangkat haji. Mereka mendaftar sejak 2013, dan antreannya tak kunjung bergerak cepat. Hal ini, seperti dijelaskan kantor Kemenhaj setempat, tak lepas dari kuota yang terbatas dan adanya penyesuaian distribusi secara nasional.
Kepala Kantor Kemenhaj Nabire, Putra Aminudin, membeberkan angka yang cukup mencengangkan. “Dengan kuota 1.080 jemaah pada 2025, antrean haji di Papua berkisar 25 hingga 26 tahun,” ujarnya.
Namun begitu, situasi justru bertambah panjang. “Tahun ini kuota turun menjadi 980 jemaah, sehingga antrean bisa mencapai 28 tahun,” tambahnya, seperti dilansir Antara, Minggu (12/4/2026).
Lalu, kenapa kuota justru dikurangi? Rupanya ini adalah kebijakan untuk meratakan antrean di seluruh Indonesia. Logikanya sederhana: daerah dengan antrean yang sudah sangat panjang perlu dapat perhatian lebih.
“Di Papua, antrean masih 25 sampai 28 tahun, sementara di daerah seperti Sulawesi Selatan sudah mencapai 44 tahun,” jelas Putra.
“Jadi daerah dengan antrean lebih lama ditambah kuotanya, sedangkan yang lebih pendek disesuaikan.”
Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah, lewat Kementerian Haji dan Umrah, untuk memangkas kesenjangan waktu tunggu antar wilayah. Di satu sisi, ini bisa jadi solusi jangka panjang. Di sisi lain, bagi mereka yang sudah menunggu belasan tahun di Papua, tentu terasa seperti penantian yang dipersulit.
Secara total, antrean haji di Papua saat ini menembus angka 25.000 orang lebih. Bayangkan saja, dengan kuota tahunan yang hanya sekitar seribu jemaah, waktu tunggu 25 tahun sudah hal yang wajar. Setelah kuota dipangkas, angka itu membengkak jadi 28 tahun. Padahal, kuota haji Indonesia secara nasional tahun ini mencapai sekitar 211.000 jemaah.
Prinsipnya tetap, kata Putra, siapa cepat dia dapat. “Nomor antrean diberikan berdasarkan waktu pendaftaran, sehingga semakin cepat mendaftar, semakin cepat pula mendapat kesempatan berangkat,” tegasnya.
Meski antreannya panjang, imbauannya tetap sama. Putra mendorong masyarakat untuk tidak patah arang. “Ibadah haji adalah rukun Islam kelima, sehingga penting bagi umat Muslim untuk mempersiapkan diri dan tidak menunda pendaftaran,” ucapnya.
Niat dan ikhtiar, menurutnya, harus tetap jalan. Meski mungkin hasilnya baru dirasakan oleh anak atau bahkan cucu di kemudian hari.
Artikel Terkait
Kapolda Sulsel Perintahkan Pengawasan Kelompok Bermuatan Politik yang Berpotensi Ganggu Kamtibmas
Menteri Agama Konfirmasi Presiden Prabowo Serahkan Hewan Kurban ke Istiqlal, Total Anggaran Capai Rp100 Miliar
Kebakaran Hutan dan Lahan di Riau Meluas, Petugas Terkendala Cuaca Panas dan Minim Air
Remaja 19 Tahun di Makassar Ditangkap Usai Mengamuk di TKP Pembunuhan Siswi SD