Namun begitu, ada masalah mendasar yang menggerus keuntungan dari pertumbuhan tersebut. Zulfikar menyoroti, masih ada beberapa koridor dimana jalur Transjakarta bercampur dengan lalu lintas biasa. Mobil pribadi, sepeda motor, bahkan angkutan umum lain seenaknya masuk. Padahal, sebagai sistem BRT, syarat utamanya adalah jalur eksklusif.
"Ketika jalur tidak steril, risiko kecelakaan meningkat, waktu tempuh tidak pasti, dan jadwal terganggu," ujarnya.
Ia melanjutkan, kondisi itu pada akhirnya mengurangi efektivitas BRT sebagai alternatif nyata dari kendaraan pribadi. Buat apa naik bus cepat kalau ujung-ujungnya terjebak macam juga?
Karena itulah, Zulfikar mendorong pemasangan separator permanen di semua koridor. Memang, langkah ini butuh biaya dan penataan ulang arus lalu lintas yang tidak sederhana. Tapi, menurutnya, investasi itu penting. Hasilnya akan terasa: layanan lebih andal, kemacetan berkurang, dan emisi pun bisa ditekan.
"Sterilisasi jalur bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar Transjakarta semakin optimal sebagai tulang punggung mobilitas warga," tutupnya tegas.
Pesan itu jelas. Pertumbuhan jumlah penumpang adalah capaian. Tapi, tanpa infrastruktur pendukung yang mumpuni, capaian itu bisa sia-sia. Warga Jakarta butuh busway yang bukan hanya banyak, tapi juga cepat dan tepat waktu.
Artikel Terkait
Polisi Gagalkan Peredaran Narkoba Etomidate Lewat Vape di Jakarta Pusat
BSKDN Perkuat Peran Analis Kebijakan sebagai Think Tank Daerah
BNN dan Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan 4.080 Butir Ekstasi Disamarkan sebagai Gaun Pengantin
Riset: Gubernur DKI Pramono Anung Pimpin Keterlibatan Publik di Media Sosial