Arif mengaku usulan normalisasi ini sudah berkali-kali diajukan lewat forum Musrenbang. Namun, hingga kini, belum ada realisasi konkret dari pihak berwenang. Padahal, masalahnya berulang setiap tahun dengan frekuensi yang mengkhawatirkan bisa 7 sampai 10 kali banjir dalam setahun, dengan ketinggian air seringkali lebih dari satu meter.
Dampaknya jelas sangat berat. Sekitar 90 persen warga di sini hidup dari bertani. Setiap kali banjir datang, bukan cuma tanaman yang rusak, tapi juga harapan untuk sesuap nasi ikut terkikis. Mereka butuh kepastian.
Di sisi lain, infrastruktur yang ada dinilai tak lagi memadai menghadapi curah hujan ekstrem. Normalisasi sungai dianggap sebagai solusi paling mendesak untuk mencegah kerugian yang lebih besar di masa depan. Bagi warga Bontolempangan, ini bukan sekadar proyek fisik, tapi soal menyelamatkan mata pencaharian dan ketahanan pangan mereka.
Tanpa intervensi serius, ancaman banjir dan gagal panen akan terus menjadi lingkaran setia yang mengintai setiap musim hujan.
Artikel Terkait
Mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin Meninggal di Jakarta, Jenazah Akan Dibawa ke Palembang
Cek Kesehatan Gratis Banjarmasin Ungkap 17 Persen Siswa SMA Butuh Perhatian Kesehatan Jiwa
MK Tegaskan Pilkada Langsung sebagai Norma Demokrasi Lokal
Jadwal Imsak dan Buka Puasa untuk Jakarta dan Kepulauan Seribu, Rabu 25 Februari 2026