Maros – Hujan deras selama beberapa hari berturut-turut telah mengubah sawah-sawah di Desa Bontolempangan, Kabupaten Maros, menjadi hamparan air yang luas. Ratusan hektare lahan, termasuk 183 hektare tanaman padi yang siap panen, kini terendam. Gagal panen pun mengancam, dan para petani mendesak satu hal: normalisasi sungai harus segera dilakukan.
Kondisinya memang memprihatinkan. Dua dusun, Tanggaparang dan Mangemba, dilaporkan menjadi wilayah yang paling parah terkena luapan. Air tak hanya merusak tanaman, tapi juga memutus akses jalan, mengisolasi warga sejenak dari aktivitas ekonomi.
Lantas, apa akar masalahnya?
Menurut Kepala Desa Bontolempangan, Muhammad Arif, penyebab utamanya adalah penyempitan dan pendangkalan alur sungai sepanjang sekitar dua kilometer. Aliran air dari hulu, khususnya dari Kecamatan Balocci di Kabupaten Pangkep, tak lagi tertampung dengan baik.
Artikel Terkait
Truk Angkut Limbah Besi Tabrak 8 Kendaraan di Bekasi, Diduga Gagal Rem
Polres Pelabuhan Tanjungperak Gelar Patroli Cipkon, Kawasan Rawan Aman Kondusif
Jaksa Tuntut Eks Petinggi Pertamina 6,5 Tahun Penjara dalam Kasus Korupsi LNG
MK Gelar Purnabakti Hakim Anwar Usman, Sambut Dua Hakim Konstitusi Baru